Minggu, 03 Januari 2016

REVIEW JURNAL


          TEMA : PERILAKU KONSUMEN

    1.      Judul                  : Analisis Perilaku Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Sayur Organik CV Golden Leaf Farm B
    2.  Penulis               : I M. Pasek Suardika, I GAA. Ambarawati
    3.    Tahun                 : 2014
    4.      Latar Belakang  :

Terkait dengan pembelian produk, ada beberapa atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam membandingkan antara makanan organik dengan makanan non organik. Pada umumnya konsumen menilai kualitas suatu produk dari tampilannya (Beharrell dan Macfie, 1991), namun hal ini nampaknya bukan merupakan hal yang penting bagi konsumen yang memiliki minat yang tinggi terhadap produk organik. Rasa, kesegaran, daya tahan (usia) produk (Wandel dan Bugge, 1996), harga (Fotopoulos dan Krystallis, 2003), dampak terhadap lingkungan dan makhluk hidup (Lea dan Worsley, 2005; Goldman dan Clancy, 1991), kandungan zat kimia dan kesehatan (Wandel dan Bugge, 1996, Chinnici, et al., 2002, Harper dan Makatouni, 2002) dinilai merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian (Bonti dan Yiridoe, 2006).
Berdasarkan paparan di atas, terdapat persepsi yang berbeda-beda mengenai faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Sebagai contoh, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mempersepsikan tidak adanya perbedaan rasa antara makanan organik dengan makanan nonorganik (Jolly dan Norris, 1991; Sparling, et al., 1992 dalam Thio, 2008), sedangkan hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa makanan organik memiliki rasa yang lebih baik dibandingkan makanan nonorganik (Estes, et al., 1994; Parker, 1996 dalamThio, 2008).
Dalam penelitian lain (Chinnici, et al., 2002; Harper dan Makatouni, 2002; O’Donovan dan McCarthy, 2002; Hill dan Lynchechaun, 2002; Hutchins dan Greenhalgl, 1995; Berrahel dan MacFie, 1991; Pearson, 2001), menunjukkan bahwa alasan konsumen dalam membeli makanan organik adalah karena keyakinan konsumen bahwa makanan organik lebih sehat dibandingkan makanan anorganik. Perbedaan persepsi ini berdasarkan pada tingkat pengetahuan dan kesadaran konsumen (Jolly, etal., 1989; Ekelund, 1990; Hutchins dan Greenhalgh, 1995; Cunningham, 2002 dalam Thio, 2008), kebiasaan (habit) atau pola belanja konsumen (Magnusson, et al., 2001) dan faktor keberadaan atau eksistensi makanan organik dan nonorganik di masyarakat (Sparling, et al., 1992 dalam Thio, 2008). Peluang pasar pertanian organik di Bali cukup potensial, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, supermarket, hotel maupun restoran dengan jumlah yang banyak sekali di Pulau Bali. Kondisi ini memberikan peluang bagi petani organik di Bali, dengan berbagai keunggulan komparatif yang dimiliki petani, antara lain: 1) masih banyaknya sumberdaya lahan yang masih dapat dikembangkan menjadi pertanian organik, 2) Teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan pupuk organik padat, cair, pestisida hayati, nabati, dan lain-lainya, 3) Jarak angkut dari produsen ke konsumen relatif dekat.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan pertanian organik di Bali adalah CV Golden Leaf Farm Bali yang merupakan pionir sayuran organik di pulau dewata. Produksi dan penjualan sayur organik yang dihasilkan CV Golden Leaf Farm Bali dari tahun 2008 – 2012 menunjukkan perkembangan positif., peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 1.2 dimana Jumlah produksi dan penjualan dari tahun 2008 sampai tahun 2009 kenaikan sebesar 2,38% , tahun 2009 sampai  tahun 2010 kenaikan sebesar 4,65%, tahun 2010 sampai tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 20%, dan tahun 2011 sampai tahun 2012 juga mengalami kenaikan terbesar yaitu mencapai  22,22%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di CV Golden Leaf Farm Bali, didapat beberapa informasi dari pihak managernya bahwa sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali sudah memiliki brand name yang kuat dibenak konsumen dengan standar kualitas yang terjamin. Hal ini terbukti dari sertifikasi organik yang sudah dimiliki dari LeSOS (Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman) No : LSPO – 005 – IDN – 014 yang menyatakan GLF telah memenuhi persyaratan secara konsisten
Pedoman SNI Pangan Organik 01-6729-2002. Proses produksi dilakukan dalam satu area lokasi seluas 9,8 hektar merupakan potensi yang sangat besar untuk keberlanjutan usaha. Disatu sisi, karena potensi pasar organik yang cukup besar, saat ini muncul beberapa pesaing CV Golden Leaf Farm Bali di pasaran.
Berkembangnya CV Golden Leaf Farm Bali sebagai perusahaan penghasil sayur organik  tidak terlepas dari perilaku konsumen yang mengkonsumsi produk nya. Perencanaan jangka panjang perusahaan perlu mengkaji karakteristik dan perilaku konsumen yang mengkonsumsi produk sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali. Hal ini mengingat konsumen sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan di masa mendatang.

      5.      Metodologi         :

Penelitian ini dilakukan di CV Golden Leaf Farm Bali sebagai basic research tempat penelitian yang berlokasi di Dusun Asah, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng - Bali dan di Supermarket untuk pengambilan responden yang diteliti. Adapun supermarket yang dijadikan lokasi penelitian untuk pengambilan responden adalah supermarket yang memiliki tingkat pembelian tertinggi di CV Golden Leaf Farm Bali yaitu : 1) Carrefour Imam Bonjol, 2) Balideli Sanur, 3)  Bintang Seminyak, 4) Pepaya, Uluwatu Kuta, 5) Pepito Kuta, 6) Carrefour Singaraja, 7) Tiara Dewata Denpasar, 8) Canggu Deli. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh konsumen yang membeli sayur organik produksi CV Golden Leaf Farm Bali di Bali. Untuk teknik pengambilan sampel yang digunakan penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010) purposive sampling adalah teknik   sampel dengan pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan sampel adalah jumlah variabel independen yang digunakan sebanyak 8, sehingga ukuran sampel yang digunakan adalah 8 x 25 = 200. Dengan demikian jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 200 sampel/responden  yang  telah pernah membeli  minimal sebanyak 5 kali. Pertimbangan ini dimaksudkan jika konsumen  telah  membeli minimal sebanyak 5 kali mengindikasikan konsumen yang bersangkutan sudah mengenal dengan baik mengenai produk, harga dan persepsi serta pengetahuannya tentang sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model persamaan struktural (Structural Equation Modeling – SEM) berbasis variance atau Component based SEM, yang terkenal disebut Partial Least Square (PLS) Visual version 1.04bl. Tujuannya adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi. Variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya. Weightestimate untuk menciptakan komponen skor variabel laten ddidapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outler model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari variabel independen (keduanya variabel laten dan indikator) diminimumkan.

      6.      Isi / Hasil            :

Evaluasi Koefisien Jalur Struktural
Mengacu tujuan penelitian yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya yaitu untuk menganalisis faktor psikologis dan faktor bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian konsumen, maka berikut akan dilakukan analisis terhadap hasil pengujian model untuk mengetahui koefisien masing – masing jalur. Berdasarkan model yang terbentuk, analisis dengan PLS dilakukan dalam dua tahap yaitu pengaruh langsung dari konstruk eksogen motivasi, persepsi, pembelajaran dan sikap yang merupakan bagian dari faktor psikologis serta konstruk produk, harga, promosi dan lokasi yang merupakan bagian dari faktor bauran pemasaran terhadap kostruk endogen keputusan pembelian. Sehingga model pertama yang diuji adalah first order model PLS dan tahap kedua adalah second order model PLS. Untuk lebih jelasnya berikut akan dipaparkan hasil pengujian model masing –masing tahap. Pengujian dengan first order PLS yang dilakukan untuk menjawab hipotesis penelitian dan juga untuk mengetahui besarnya pengaruh masing – masing konstruk eksogen dari motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, produk, harga, promosi dan lokasi terhadap konsrruk endogen keputusan pembelian.

Pengaruh faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap) terhadap keputusan pembelian

Hubungan antara motivasi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,4120 dengan nilai t-statistik sebesar 6,3747 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara motivasi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara persepsi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0360 dengan nilai t-statistik sebesar 1,1831 (< 1,96). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara persepsi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara pembelajaran dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,2720 dengan nilai t-statistik sebesar 5,8392 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara pembelajaran dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara sikap dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,3640 dengan nilai Tstatistik sebesar 9,7865 (> 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara persepsi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF.
Pengaruh faktor bauran pemasaran (produk, harga, promosi, lokasi) terhadap keputusan pembelian. Hubungan antara produk dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,2160 dengan nilai t-statistik sebesar 5,4891 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara produk dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara harga dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar – 0,1840 dengan nilai t-statistik sebesar – 4, 7739 (> 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan negatif dan signifikan antara harga dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara promosi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0370 dengan nilai Tstatistik sebesar 0,9734 (< 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara promosi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara lokasi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0350 dengan nilai T-statistik sebesar 1,0586 (< 1,96). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara lokasi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan yang positif dan negatif serta hubungan yang signifikan dan tidak signifikan. Pola hubungan positif terdapat pada jalur motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, produk, promosi dan lokasi terhadap keputusan pembelian. Hal ini berarti semakin memenuhi atau semakin baik aspek – aspek tersebut maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin tinggi, sebaliknya semakin kurang memenuhi/baik aspek – aspek tersebut maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin menurun. Pola hubungan negatif terdapat pada jalur harga terhadap keputusan pembelian. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat harga dari produk maka keputusan yang terjadi akan semakin menurun, sebaliknya semakin menurun tingkat harga produk maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin meningkat. Sedangkan tingkat signifikansi jalur yang terbentuk, terdapat empat jalur yang memiliki pengaruh signifikan, serta tiga jalur yang memiliki pengaruh tidak signifikan. Pengaruh signifikan ditunjukkan oleh konstruk motivasi, pembelajaran, sikap, produk dan harga terhadap keputusan pembelian karena nilai t-statistik di atas 2,58 (taraf kesalahan 1%). Sedangkan konstruk persepsi, promosi dan lokasi menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian karena nilai t-statistik di bawah 1,96 (taraf kesalahan 5%).
       
      7.      Kesimpulan        :
`
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

1. Faktor psikologis yang terdiri atas: motivasi, pembelajaran, dan sikap berpengaruh positif dan sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali, tetapi persepsi tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.

2. Faktor bauran pemasaran produk berpengaruh positif dan sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali, tetapi harga berpengaruh negatif namun sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf farm Bali.

3. Faktor  promosi dan lokasi berpengaruh positif  namun tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.

Sabtu, 14 November 2015

Contoh kasus Pengambilan keputusan Pembelian suatu Produk


Contoh Kasus Proses Pengambilan Keputusan Oleh Konsumen

Ibu Ani membutuhkan cairan air minum mineral untuk di minum. Saat itu ia langsung mencari informasi dari orang – orang terdekatnya untuk menentukan air minum yang akan ia konsumsi setiap harinya. Setelah ibu Ani mendapat cukup banyak informasi merek, kualitas, harga, lokasi pendapatan produk tersebut maka ibu Ani mengevaluasi terhadap pilihannya dengan cermat untuk mendapatkan air minum yang baik untuk dirinya dan keluarga. Setelah mengevaluasi berbagai macam merek maka ibu Ani menjatuhkan pilihan pada produk air minum merek A yang di produksi oleh Danone yang sudah lama ada dan sangat di kenal masyarakat dan di gemari masyarakat karena produk air minum A di ambil dari sumber mata air terpercaya dan jernih melalui tahap proses beberapa kali penyaringan sehingga sangat aman dan terjamin untuk di konsumsi setiap hari dalam pengganti cairan tubuh. Tidak sedikit orang memilih air minum produk A karena terjamin untuk kesehatannya dan mudah di dapatkan. Setelah ibu Ani dan keluarga mencobanya beberapa bulan ternyata benar air minum produk A terjamin bersih ,jernih dan mudah di dapat.

Proses Pengambilan Keputusan oleh Konsumen


Kamis, 22 Oktober 2015

Preferensi Konsumen Terhadap 2 Produk Detergen merk A & B


Produk detergen mempunyai bermacam – macam merk,  tetapi  hanya 2 produk  saja yang akan digunakan dalam wawancara. Hasil wawancara yang sudah dilakukan terhadap 5 orang narasumber mengenai produk detergen yang mereka gunakan, yaitu ada produk merk A dan produk merk B. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa perbandingan mengenai alasan mereka menggunakan produk detergen merk A dan produk detergen merk B serta kelebihan dan kekurangan dari masing – masing merk produk tersebut.

Disini, kita akan membahas beberapa kelebihan dan kekurangan dari masing – masing jenis produk.

1.         Produk Detergen Merk A
Kelebihan :
-           Mudah ditemukan di supermaket atau warung
-           Daya bersih yang tinggi
-           Wangi yang superior dan lebih tahan lama
-           Dapat membersihkan noda 2 kali lebih efektif
-           Tidak meninggalkan sisa butiran deterjen
Kekurangan :
-           Harga yang lumayan mahal
-           Mengandung enzim yang tidak aman

2.         Produk Detergen merk B
Kelebihan :
-           Pemutihnya kuat
-           Lembut ditangan
-           Membersihkan dengan tuntas
-           Pakaiannya menjadi putih cemerlang
Kekurangan :
-           Kurang wangi
-           Tidak semua supermaket atau warung menyediakan produk ini
-           Harga masih relatif mahal
-           Ukuran kemasan tidak beragam

Kesimpulan dari wawancara terhadap 5 orang narasumber yang berbeda, maka produk merk detergen yang paling banyak dipakai yaitu produk detergen merk Rinso dan  terdapat 3 orang yang mempunyai alasan kenapa lebih memilih produk tersebut karena dapat membershikan noda 2x lipat dan mudah dijangkau dimana saja baik supermaket maupun warung sedangkan  konsumen yang memilih produk detergen merk Surf terdapat 2 orang yang masing – masing mempunyai alasan untuk membeli jenis produk itu karena sangat lembut ditangan dan membersihkan secara tuntas menjadi putih cemerlang.

Minggu, 18 Oktober 2015

BAGAN PERILAKU KONSUMEN


PERILAKU KONSUMEN                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        





Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen akan diperlihatkan dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian. Pada tahap sebelum pembelian konsumen akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa. Pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.Atau  kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Sumber : http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2009/12/makalahpengertianpemasarandan.html

Rabu, 06 Mei 2015

KONFERENSI ASIA AFRIKA DAN PENGARUHNYA TERHADAP NEGARA - NEGARA EROPA



Konferensi Asia Afrika Berakhirnya Perang Dunia I membawa pengaruh terhadap bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk memperoleh kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Di samping itu juga ditandai dengan munculnya dua kekuatan ideologis, politis, dan militer termasuk pengembangan senjata nuklir. Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara selalu berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Salah satu bentuk penyelenggaraan kehidupan bernegara adalah menjalin kerja sama dengan negara lain. Kebijakan yang menyangkut hubungan dengan negara lain terangkum dalam kebijakan politik luar negeri. Oleh karena itu, pelaksanaan politik luar negeri Indonesia juga harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Indonesia mencetuskan gagasannya untuk menggalang kerja sama dan solidaritas antarbangsa dengan menyelenggarakan KAA.

Latar Belakang Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika

Politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif. Bebas, artinya bangsa Indonesia tidak memihak pada salah satu blok yang ada di dunia. Jadi, bangsa Indonesia berhak bersahabat dengan negara mana pun asal tanpa ada unsur ikatan tertentu. Bebas juga berarti bahwa bangsa Indonesia mempunyai cara sendiri dalam menanggapi masalah internasional. Aktifberarti bahwa bangsa Indonesia secara aktif ikut mengusahakan terwujudnya perdamaian dunia. Negara Indonesia memilih sifat politik luar negerinya bebas aktif sebab setelah Perang Dunia II berakhir di dunia telah muncul dua kekuatan adidaya baru yang saling berhadapan, yaitu negara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat memelopori berdirinya Blok Barat atau Blok kapitalis (liberal), sedangkan Uni Soviet memelopori kemunculan Blok Timur atau blok sosialis (komunis).

Dalam upaya meredakan ketegangan dan untuk mewujudkan perdamaian dunia, pemerintah Indonesia memprakarsai dan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika. Usaha ini mendapat dukungan dari negara-negara di Asia dan Afrika. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada umumnya pernah menderita karena penindasan imperialis Barat. Persamaan nasib itu menimbulkan rasa setia kawan. Setelah Perang Dunia II berakhir, banyak negara di Asia dan Afrika yang berhasil mencapai kemerdekaan, di antaranya adalah India, Indonesia, Filipina, Pakistan, Burma (Myanmar), Sri Lanka, Vietnam, dan Libia. Sementara itu, masih banyak pula negara yang berada di kawasan Asia dan Afrika belum dapat mencapai kemerdekaan. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang telah merdeka tidak melupakan masa lampaunya. Mereka tetap merasa senasib dan sependeritaan. Lebih-lebih apabila mengingat masih banyak negara di Asia dan Afrika yang belum merdeka. Rasa setia kawan itu dicetuskan dalam

Konferensi Asia Afrika. Sebagai cetusan rasa setia kawan dan sebagai usaha untuk menjaga perdamaian dunia, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika mempunyai arti penting, baik bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada khususnya maupun dunia pada umumnya.
Prakarsa untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika dikemukakan pertama kali oleh Perdana Menteri RI Ali Sastroamijoyo yang kemudian mendapat dukungan dari negara India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar) dalam Konferensi Colombo.

 Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika

Sesuai dengan rencana, Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18–24 April 1955. Kon-ferensi Asia Afrika dihadiri oleh wakil-wakil dari 29 negara yang terdiri atas negara pengundang dan negara yang diundang.

Negara pengundang meliputi Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar).
Negara yang diundang 24 negara terdiri atas 6 negara Afrika dan 18 negara meliputi Asia (Filipina, Thailand, Kampuchea, Laos, RRC, Jepang, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Nepal, Afghanistan, Iran, Irak, Saudi Arabia, Syria (Suriah), Yordania, Lebanon, Turki, Yaman), dan Afrika (Mesir, Sudan, Etiopia, Liberia, Libia, dan Pantai Emas/Gold Coast).

Negara yang diundang, tetapi tidak hadir pada Konferensi Asia Afrika adalah Rhodesia/Federasi Afrika Tengah. Ketidakhadiran itu disebabkan Federasi Afrika Tengah masih dilanda pertikaian dalam negara/dikuasai oleh orang-orang Inggris. Semua persidangan Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung.

Latar belakang dan dasar pertimbangan diadakan KAA adalah sebagai berikut:

       a.       Kenangan kejayaan masa lampau dari beberapa negara di kawasan Asia-Afrika.
       b.      Perasaan senasib sepenanggungan karena sama-sama merasakan masa penjajahan dan penindasan bangsa Barat, kecuali Thailand.
       c.       Meningkatnya kesadaran berbangsa yang dimotori oleh golongan elite nasional/terpelajar dan intelektual.
      d.      Adanya Perang Dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur.
      e.       Memiliki pokok-pokok yang kuat dalam hal bangsa, agama, dan budaya.
      f.       Secara geografis letaknya berdekatan dan saling melengkapi satu sama lain.

Tujuan diadakannya Konferensi Asia Afrika, antara lain :

      a.       Memajukan kerja sama bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
      b.      Memberantas diskriminasi ras dan kolonialisme.
      c.       Memperbesar peranan bangsa Asia dan Afrika di dunia dan ikut serta mengusahakan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.
      d.      Bekerja sama dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya, membicarakan masalah-masalah khusus yang menyangkut kepentingan bersama seperti kedaulatan negara, rasionalisme, dan kolonialisme.

 Pengaruh Konferensi Asia Afrika bagi Solidaritas dan Perjuangan Kemerdekaan Bangsa di Asia dan Afrika

Konferensi Asia Afrika membawa pengaruh yang besar bagi solidaritas dan perjuangan kemerdekaan bangsa di Asia dan Afrika. Pengaruh Konferensi Asia Afrika adalah sebagai berikut.

     a.       Perintis dalam membina solidaritas bangsa-bangsa dan merupakan titik tolak untuk mengakui kenyataan bahwa semua bangsa di dunia harus dapat hidup berdampingan secara damai.
     b.      Cetusan rasa setia kawan dan kebangsaan bangsa-bangsa Asia Afrika untuk menggalang persatuan.
     c.       Penjelmaan kebangkitan kembali bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
     d.      Pendorong bagi perjuangan kemerdekaan bangsa di dunia pada umumnya serta di Asia dan Afrika khususnya.
     e.       Memberikan pengaruh yang besar terhadap perjuangan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam mencapai kemerdekaannya.
     f.       Banyak negara-negara Asia-Afrika yang merdeka kemudian masuk menjadi anggota PBB.

Selain membawa pengaruh bagi solidaritas dan perjuangan kemerdekaan bangsa di Asia dan Afrika, Konferensi Asia Afrika juga menimbulkan dampak yang penting dalam perkembangan dunia pada umumnya. Pengaruh atau dampak itu, antara lain sebagai berikut.

     a.       Konferensi Asia Afrika mampu menjadi penengah dua blok yang saling berseteru sehingga dapat mengurangi ketegangan/détenteakibat Perang Dingin dan mencegah terjadinya perang terbuka.
     b.      Gagasan Konferensi Asia Afrika berkembang lebih luas lagi dan diwujudkan dalam Gerakan Non Blok.  
     c.       Politik bebas aktif yang dijalankan Indonesia, India, Burma (Myanmar), dan Sri Lanka tampak mulai diikuti oleh negara-negara yang tidak bersedia masuk Blok Timur ataupun Blok Barat.
     d.      Belanda cemas dalam menghadapi kelompok Asia Afrika di PBB sebab dalam Sidang Umum PBB, kelompok tersebut mendukung tuntutan Indonesia atas kembalinya Irian Barat ke pangkuan RI.
     e.       Australia dan Amerika Serikat mulai berusaha menghapuskan diskriminasi ras di negaranya.

Pengaruh Konferensi Asia Afrika bagi Solidaritas, Indonesia, dan Perjuangan Kemerdekaan Bangsa di Asia dan Afrika

1. Berkurangnya ketegangan dan bahaya pecahnya peperangan yang bersumberdari persengketaan masalah Taiwan antara RRC dengan Amerika Serikat.

2. Perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk mencapai kemerdekaan semakinmeningkat. Hal ini tampak dengan meningkatnya jumlah negara-negara Asia-Afrika yang merdeka setelah tahun 1955.

3. Politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan Indonesia, India, Birma, danSrilangka mulai diikuti negara-negara lain yang tidak masuk Blok Barat maupun Blok Timur.


Sumber :