Kamis, 29 September 2016

Analisis Usaha Perumahan Cluster Berdasarkan Teori Utilitarianisme


1. Pendahuluan

Salah satu kebutuhan primer manusia adalah tempat tinggal. Tetapi terkadang tempat tinggal yang ditempati tidak sepenuhnya sesuai dengan yang diinginkan, karena beberapa faktor seperti faktor lokasi. Lokasi tempat tinggal terkadang seseorang merasa terlalu jauh dari tempat kerjanya atau beranggapan bahwa daerah disekitarnya sudah tidak memberikan kenyamanan. Oleh karena itu perlu sekali untuk mencari suatu tempat tinggal yang nyaman. Salah satu solusinya adalah membuka usaha perumahan cluster yang memiliki berbagai type rumah yang bisa selalu menjadi sebuah bisnis impian yang banyak dicari orang. Perumahan cluster merujuk pada rumah dengan model terbuka tanpa ada pagar yang mengelilinginya dan berada di dalam komplek perumahan. Kekhasan dari perumahan cluster adalah seluruh wilayahnya dikelilingi dengan tembok tinggi dan hanya terdapat satu gerbang. Hal ini memungkinkan aktifitas keluar masuk komplek hanya terdapat satu jalur dan lebih mudah dipantau. Di zaman yang semakin canggih orang lebih memilih cara yang praktis untuk membeli suatu rumah. Apa sih bisnis itu? Bisnis menurut beberapa ahli, salah satunya yaitu pendapat Glos, Stade dan Lowry (1996) yang mengatakan bahwa bisnis merupakan semua kegiatan yang diatur dan diorganisir oleh mereka yang bergerak dalam bidang industri dan perniagaan yang mana kegiatan tersebut menyediakan barang dan juga jasa sebagai pemenuhan kebutuhan dalam rangka untuk mempertahankan serta memperbaiki standar dan kualitas hidup.
Dengan demikian, target pasar perumahan cluster biasanya menyasar pada masyarakat perkotaan yang sibuk, dengan model perumahan cluster diharapkan penghuni dapat merasa lebih aman dan mampu bersosialisasi dengan tetangga di sekitarnya. Dengan perumahan cluster yang sudah semakin banyak mungkin bagi para pembuatnya mendapatkan suatu keuntungan, mereka bisa saja mengambil keuntungan berjuta – juta dari hasil penjualan per unit rumah.

2. Teori Utilitarianisme

        2.1 Pengertian Utilitarianisme

Utilitarianisme adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa suatu tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan. "Utilitarianisme" berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory). Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak.
Dalam dunia ekonomi, teori ini cocok dengan pemikiran ekonomi, karena paham ini bisa menghitung manfaat seperti saat menghitung keuntungan dan kerugian yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Utilitarianisme, dibedakan menjadi dua macam :

1. Utilitarianisme Tindakan (Act Utilitarianism)
        Secara dasar Utilitarianisme Tindakan dapat dirumuskan bahwa setiap manusia harus sering malkukan perbuatan yang bermanfaat sehingga setiap tindakannya menghasilkan akibat-akibat yang baik di dunia daripada akibat buruknya. Bagi penganut aliran ini, pertanyaan pokok yang perlu diajukan dalam mempertimbangkan suatu tindakan tertentu adalah: “Apakah tindakanku yang tertentu ini, pada situasi seperti ini, kalau memperhatikan semua pihak yang tersangkut, akan membawa akibat baik yang lebih besar daripada akibat buruknya?” Bagi Utilitarianisme Tindakan tidak ada peraturan umum yang dengan sendirinya berlaku; setiap tindakan mesti dipertimbangkan akibatnya.

2. Utilitarianisme Aturan (Rule Utilitarianism)
       Untuk mengatasi kelemahan Utilitarianisme Tindakan, maka kemudian dikembangkanlah macam etika Utilitarian yang kedua, yakni Utilitarianisme Peraturan. Dalam teori ini, yang dipermasalahkan bukan lagi akibat baik dan buruk dari masing-masing tindakan sendiri, melainkan dari peraturan umum yang mendasari tindakan itu. Karena meskipun orang tersebut melakukan perbuatan yang baik tetapi berdasarkan peraturan yang salah, maka orang tersebut tetap dianggap telah melakukan perbuatan yang salah.

Menurut Weiss terdapat tiga konsep dasar mengenai utilitarianisme sebagai berikut :

1. Suatu tindakan atau perbuatan adalah benar jika tindakan itu memberikan hal terbaik untuk banyak orang yang dipengaruhi oleh tindakan atau perbuatan atau pengambilan keputusan.

2. Suatu tindakan atau perbuatan atau pengambilan keputusan adalah benar jika terdapat manfaat terbaik atas biaya – biaya yang dikeluarkan, dibandingkan manfaat dari semua kemungkinan alternatif yang pilihan yang dipertimbangkan.
3. Suatu tindakan atau perbuatan adalah benar jika tindakan atau perbuatan itu secara tepat mampu memberi manfaat, baik langsung ataupun tidak langsung, untuk masa depan pada setiap orang dan jika manfaat tersebut lebih besar daripada biaya dan manfaat alternatif yang ada.
   
    Sesuai dengan teori utilitarianisme yang menyatakan bahwa tindakan dan kebijakan pengambilan keputusan ini perlu dievalusi menjadi tindakan yang “benar”. Sehingga keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang besar harus dilakukan dengan produksi yang benar sehingga tidak merugikan masyarakat dan dapat mengembalikan nama baik perusahaan ke konsumen.

2.2 Kriteria dan Prinsip Utilitarianisme

Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi, kebijaksanaan atau tindakan yang baik adalah yang menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya, kebijaksanaan atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu.

Kriteria kedua adalah manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar) dibandingkan dengan kebijaksanaan atau tindakan alternative lainnya.

Kriteria ketiga adalah manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu dengan kata lain suatu kebijaksanaan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis menurut etika utilitarianisme adalah kebijaksanaan atau tindakan yang membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat merugikan yang sekecil mungkin bagi sedikit mungkin orang.

Secara padat ketiga prinsip itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak mungkin orang.

2.3 Keunggulan Utilitarianisme

Utilitarianisme dalam banyak hal merupakan sebuah teori yang menarik, dengan alasan sebagai berikut:

1. Sejalan dengan pandangan-pandangan yang cenderung diusulkan saat membahas kebijakan pemerintah dan barang-barang komoditas publik. Jadi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tepat adalah kebijakan yang memiliki utilitas terbesar bagi masyarakat—atau seperti dalam slogan terkenal dunia, kebijakan yang mampu menghasilkan “kebaikan terbesar bagi sebagian besar masyarakat.
            
        2. Sejalan dengan kriteria intuitif yang digunakan oleh orang-orang dalam membahas perilaku atau tindakan moral (moral conduct). Sebagai contoh, seseorang memiliki kewajiban moral untuk melakukan tindakan tertentu, mengacu kepada manfaat atau kerugian yang diakibatkan tindakan tersebut pada umat manusia. Di samping itu, moralitas mewajibkan sseorang untuk mempertimbangkan kepentingan-kepentingan orang lain dan memiliki utilitas terbesar, siapa pun yang memperoleh manfaat-manfaat tersebut.
          
            3. Dapat menjelaskan mengapa kita menganggap jenis-jenis aktivitas tertentu secara moral dianggap bersalah (berbohong, perselingkuhan, pembunuhan), sementara yang lain dianggap benar (menyampaikan kebenaran, bersikap jujur, menepati janji).  Namun demikian, kaum utilitarian tradisional menyangkal bahwa semua tindakan dapat dianggap sebagai tindakan yang benar atau salah. Mereka menolak, misalnya, bahwa ketidakjujuran atau pencurian pasti merupakantindakan yang salah. Jika dalam situasi tertentu, lebih banyak akibat yang menguntungkan yang bisa diperoleh dengan melakukan tindakan yang tidak jujur dibandingkan tindakan-tindakan yang bisa dilakukan lainnya yang bisa dilakukan dalam situasi itu, maka, menurut teori utilitarian tradisional, tindakan tidak jujur tersebut secara moral adalah benar, hanya dalam situasi tersebut.
            
      4. Sangat berpengaruh dalam bidang ekonomi dan  juga menjadi dasar teknik analisis biaya-manfaat ekonomi.
            
        5. Sangat sesuai dengan nilai yang diutamakan oleh banyak orang : efisiensi. Suatu tindakan yang efisien adalah tindakan yang mampu memberikan output sesuai yang diinginkan dengan input sumberdaya paling rendah.  Jika kita mengganti “manfaat” dengan “output yang diinginkan” dan “biaya” dengan “input sumber daya”, maka utilitarianisme mengimplikasikan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang paling efisien.

2.4 Kelemahan Utilitarianisme

Dibawah ini menyinggung beberapa kelemahan etika utilitarianisme, tanpa bermaksud melangkah lebih jauh ke dalam pendekatan fisiologis mengenai kelemahan-kelemahan tersebut, yaitu:

a. Manfaat merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan malah menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. Karena, manfaat bagi manusia berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Sebuah tindakan bisnis bisa sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi sekelompok orang, tetapi bisa sangat merugikan bagi kelompok lain. Masuknya industri ke daerah pedesaan bisa sangat menguntungkan bagi sebagian penduduk desa, tetapi bahi yang lain justru merugikan karena hilangnya udara bersih dan ketenangan di desa. Mengimpor buah-buahan luar negeri bisa sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi konsumen di daerah perkotaan tetapi tindakan yang sama bisa sangat merugikan petani lokal. Maka, suhubungan itu terjadi kesulitan, siapa yang memutuskan kepentingan siapa lebih penting daripada kepentingan orang lain. Siapa yang memutuskan manfaat yang diperoleh kelompok tertentu lebih penting dari pada manfaat yang diperoleh kelompok lain?

b. Persoalan klasik yang lebih filosofis adalah bahwa utilitarianisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri, dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. Padahal, sangat mungkin terjadi suatu tindakan pada dasarnya tidak baik, tetapi ternyata mendatangkan keuntungan atau manfaat.

c.  Dalam kaitan dengan itu, utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan atau motivasi baik seseorang. Akibatnya, kendati seseorang mempunya motivasi yang baik dalam melakukan tindakan tertentu, tetapi ternyata membawa kerugian yang besar bagi banyak orang, tindakan itu tetap dinilai tidak baik dan tidak etis. Padahal, dalam banyak kasus, sering kita tidak bisa meramalkan dan menduga secara persis konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan. Sangat mungkin terjadi bahwa akibar yang merugikan dari suatu tindakan tidak dilihat sebelumnya dan baru diketahui lama sesudahnya.

d. Variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Karena itu, sulit mengukur dan membandingkan keuntungan dan kerugian hanya berdasarkan variabel yang ada. Secara khusus sulit untuk menilai dan membandingkan variabel moral yang tidak bisa dikuantifikasi. Polusi udara, hilangnya air bersih, kenyamanan dan keselamatan kerja, kenyamanan produk, dan seterusnya, termasuk nyawa manusia, tidak bisa dikuantifikasi dan sulit bisa dipakai dalam menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan manfaat-manfaat ini.

e. Seandainya ketiga kriteria dari utilitarianisme sangat bertentangan, ada kesulitan cukup besar untuk menentukan prioritas diantara ketiganya.

3. Analisis

Perumahan cluster yang ada didaerah sekitar saya ini menghasilkan keuntungan yang baik serta keuntungan yang merugikan. Keuntungan yang baik seperti, tidak perlu repot – repot melakukan survei, mencari harga tanah sesuai anggaran, juga menilai keamanan di wilayah tersebut dan biasanya jika memilih perumahan dari pengembang besar telah menyiapkan berbagai fasilitas dan area komersil yang tentunya akan mempermudah kebutuhan rumah tangga. Selain itu, kita tidak perlu pusing memikirkan anggaran karena dapat memanfaatkan KPR, bisa dengan mudah menempati rumah baru meski baru membayar 1/3 dari harga rumah. Pilihan desain rumah yang tersedia cukup banyak, luas dan tipe-nya pun lebih banyak pilihannya. Dari segi riwayat rumah bisa mengetahui dari awal, dan pastinya bisa mengetahui jenis material apa yang digunakan untuk membangun rumah baru itu. Yang paling penting, legalitas serta dokumen rumah lebih terjamin karena bisa meminta jaminan dari pengembang, dana membeli rumah yang tersisa bisa digunakan untuk perencanaan keuangan lainnya.

Perumahan cluster ini selain mendatangkan keuntungan, juga menimbulkan kerugian. Kerugiannya seperti, semakin buruk daerah resapan air serta daerah kawasan hijau yang ditebang yang ada disekitarnya dan dari tiap tahun ketahun semakin banyak bisnis pembangunan perumahan cluster ini yang mungkin bisa merusak lingkungan jika tidak tertata dengan baik.

Jadi, sesuai dengan teori utilitarianisme maka usaha perumahan cluster ini memberikan banyak keuntungan untuk orang banyak (“the greatest good for the greatest number”), karena dapat meningkatkan sosialisasi sehingga lebih terjaga, meningkatkan keamanan, fasilitas cukup banyak, serta kebanyakan taman pun dibuat secantik dan seindah mungkin oleh pengembang agar masyarakat merasa meskipun berada ditengah – tengah kota, namun suasananya tetap asri. Walaupun terdapat beberapa kerugian yang diakibatkan karena membangun perumahan cluster ini, namun ini juga mendatangkan banyak keuntungan.




Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar