1. Pendahuluan
Salah
satu kebutuhan primer manusia adalah tempat tinggal. Tetapi terkadang tempat
tinggal yang ditempati tidak sepenuhnya sesuai dengan yang diinginkan, karena
beberapa faktor seperti faktor lokasi. Lokasi tempat tinggal terkadang
seseorang merasa terlalu jauh dari tempat kerjanya atau beranggapan bahwa
daerah disekitarnya sudah tidak memberikan kenyamanan. Oleh karena itu perlu
sekali untuk mencari suatu tempat tinggal yang nyaman. Salah satu solusinya
adalah membuka usaha perumahan cluster yang memiliki berbagai type rumah yang
bisa selalu menjadi sebuah bisnis impian yang banyak dicari orang. Perumahan
cluster merujuk pada rumah dengan model terbuka tanpa ada pagar yang mengelilinginya
dan berada di dalam komplek perumahan. Kekhasan dari perumahan cluster adalah
seluruh wilayahnya dikelilingi dengan tembok tinggi dan hanya terdapat satu
gerbang. Hal ini memungkinkan aktifitas keluar masuk komplek hanya terdapat
satu jalur dan lebih mudah dipantau. Di zaman yang semakin canggih orang lebih
memilih cara yang praktis untuk membeli suatu rumah. Apa sih bisnis itu? Bisnis
menurut beberapa ahli, salah satunya yaitu pendapat Glos, Stade dan Lowry
(1996) yang mengatakan bahwa bisnis merupakan semua kegiatan yang diatur dan
diorganisir oleh mereka yang bergerak dalam bidang industri dan perniagaan yang
mana kegiatan tersebut menyediakan barang dan juga jasa sebagai pemenuhan
kebutuhan dalam rangka untuk mempertahankan serta memperbaiki standar dan
kualitas hidup.
Dengan
demikian, target pasar perumahan cluster biasanya menyasar pada masyarakat
perkotaan yang sibuk, dengan model perumahan cluster diharapkan penghuni dapat
merasa lebih aman dan mampu bersosialisasi dengan tetangga di sekitarnya.
Dengan perumahan cluster yang sudah semakin banyak mungkin bagi para pembuatnya
mendapatkan suatu keuntungan, mereka bisa saja mengambil keuntungan berjuta –
juta dari hasil penjualan per unit rumah.
2. Teori Utilitarianisme
2.1 Pengertian Utilitarianisme
Utilitarianisme
adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa suatu
tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya
didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan. "Utilitarianisme"
berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah,
atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan
terbesar (the greatest happiness theory). Utilitarianisme sebagai teori
sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John
Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa
yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang
jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena
itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna,
berfaedah, dan menguntungkan atau tidak.
Dalam
dunia ekonomi, teori ini cocok dengan pemikiran ekonomi, karena paham ini bisa
menghitung manfaat seperti saat menghitung keuntungan dan kerugian yang
dihasilkan dari kegiatan tersebut. Utilitarianisme, dibedakan menjadi dua macam
:
1.
Utilitarianisme Tindakan (Act Utilitarianism)
Secara dasar Utilitarianisme Tindakan
dapat dirumuskan bahwa setiap manusia harus sering malkukan perbuatan yang
bermanfaat sehingga setiap tindakannya menghasilkan akibat-akibat yang baik di
dunia daripada akibat buruknya. Bagi penganut aliran ini, pertanyaan pokok yang
perlu diajukan dalam mempertimbangkan suatu tindakan tertentu adalah: “Apakah
tindakanku yang tertentu ini, pada situasi seperti ini, kalau memperhatikan
semua pihak yang tersangkut, akan membawa akibat baik yang lebih besar daripada
akibat buruknya?” Bagi Utilitarianisme Tindakan tidak ada peraturan umum yang
dengan sendirinya berlaku; setiap tindakan mesti dipertimbangkan akibatnya.
2.
Utilitarianisme Aturan (Rule Utilitarianism)
Untuk mengatasi kelemahan
Utilitarianisme Tindakan, maka kemudian dikembangkanlah macam etika Utilitarian
yang kedua, yakni Utilitarianisme Peraturan. Dalam teori ini, yang
dipermasalahkan bukan lagi akibat baik dan buruk dari masing-masing tindakan
sendiri, melainkan dari peraturan umum yang mendasari tindakan itu. Karena
meskipun orang tersebut melakukan perbuatan yang baik tetapi berdasarkan
peraturan yang salah, maka orang tersebut tetap dianggap telah melakukan
perbuatan yang salah.
Menurut
Weiss terdapat tiga konsep dasar mengenai utilitarianisme sebagai berikut :
1. Suatu
tindakan atau perbuatan adalah benar jika tindakan itu memberikan hal terbaik
untuk banyak orang yang dipengaruhi oleh tindakan atau perbuatan atau
pengambilan keputusan.
2. Suatu
tindakan atau perbuatan atau pengambilan keputusan adalah benar jika terdapat
manfaat terbaik atas biaya – biaya yang dikeluarkan, dibandingkan manfaat dari
semua kemungkinan alternatif yang pilihan yang dipertimbangkan.
3. Suatu
tindakan atau perbuatan adalah benar jika tindakan atau perbuatan itu secara
tepat mampu memberi manfaat, baik langsung ataupun tidak langsung, untuk masa
depan pada setiap orang dan jika manfaat tersebut lebih besar daripada biaya dan
manfaat alternatif yang ada.
Sesuai
dengan teori utilitarianisme yang menyatakan bahwa tindakan dan kebijakan
pengambilan keputusan ini perlu dievalusi menjadi tindakan yang “benar”.
Sehingga keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang besar harus dilakukan
dengan produksi yang benar sehingga tidak merugikan masyarakat dan dapat
mengembalikan nama baik perusahaan ke konsumen.
2.2 Kriteria dan
Prinsip Utilitarianisme
Kriteria
pertama adalah manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu
mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi, kebijaksanaan atau tindakan
yang baik adalah yang menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya, kebijaksanaan
atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu.
Kriteria
kedua adalah manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu
mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar) dibandingkan
dengan kebijaksanaan atau tindakan alternative lainnya.
Kriteria
ketiga adalah manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu dengan kata
lain suatu kebijaksanaan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis
menurut etika utilitarianisme adalah kebijaksanaan atau tindakan yang membawa
manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat
merugikan yang sekecil mungkin bagi sedikit mungkin orang.
Secara
padat ketiga prinsip itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Bertindaklah
sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin
bagi sebanyak mungkin orang.
2.3 Keunggulan Utilitarianisme
Utilitarianisme dalam banyak hal merupakan sebuah teori yang
menarik, dengan alasan sebagai berikut:
1.
Sejalan dengan pandangan-pandangan yang cenderung diusulkan saat membahas
kebijakan pemerintah dan barang-barang komoditas publik. Jadi
kebijakan-kebijakan pemerintah yang tepat adalah kebijakan yang memiliki
utilitas terbesar bagi masyarakat—atau seperti dalam slogan terkenal dunia,
kebijakan yang mampu menghasilkan “kebaikan terbesar bagi sebagian besar
masyarakat.
2.
Sejalan dengan kriteria intuitif yang digunakan oleh orang-orang dalam membahas
perilaku atau tindakan moral (moral conduct). Sebagai contoh, seseorang
memiliki kewajiban moral untuk melakukan tindakan tertentu, mengacu kepada
manfaat atau kerugian yang diakibatkan tindakan tersebut pada umat manusia. Di
samping itu, moralitas mewajibkan sseorang untuk mempertimbangkan
kepentingan-kepentingan orang lain dan memiliki utilitas terbesar, siapa pun
yang memperoleh manfaat-manfaat tersebut.
3.
Dapat menjelaskan mengapa kita menganggap jenis-jenis aktivitas tertentu secara
moral dianggap bersalah (berbohong, perselingkuhan, pembunuhan), sementara yang
lain dianggap benar (menyampaikan kebenaran, bersikap jujur, menepati
janji). Namun demikian, kaum utilitarian
tradisional menyangkal bahwa semua tindakan dapat dianggap sebagai tindakan
yang benar atau salah. Mereka menolak, misalnya, bahwa ketidakjujuran atau pencurian
pasti merupakantindakan yang salah. Jika dalam situasi tertentu, lebih banyak
akibat yang menguntungkan yang bisa diperoleh dengan melakukan tindakan yang
tidak jujur dibandingkan tindakan-tindakan yang bisa dilakukan lainnya yang
bisa dilakukan dalam situasi itu, maka, menurut teori utilitarian tradisional,
tindakan tidak jujur tersebut secara moral adalah benar, hanya dalam situasi
tersebut.
4.
Sangat berpengaruh dalam bidang ekonomi dan
juga menjadi dasar teknik analisis biaya-manfaat ekonomi.
5.
Sangat sesuai dengan nilai yang diutamakan oleh banyak orang : efisiensi. Suatu
tindakan yang efisien adalah tindakan yang mampu memberikan output sesuai yang
diinginkan dengan input sumberdaya paling rendah. Jika kita mengganti “manfaat” dengan “output
yang diinginkan” dan “biaya” dengan “input sumber daya”, maka utilitarianisme
mengimplikasikan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang paling efisien.
2.4 Kelemahan
Utilitarianisme
Dibawah
ini menyinggung beberapa kelemahan etika utilitarianisme, tanpa bermaksud
melangkah lebih jauh ke dalam pendekatan fisiologis mengenai
kelemahan-kelemahan tersebut, yaitu:
a.
Manfaat merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan malah
menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. Karena, manfaat bagi manusia berbeda
antara satu orang dengan orang yang lain. Sebuah tindakan bisnis bisa sangat
menguntungkan dan bermanfaat bagi sekelompok orang, tetapi bisa sangat
merugikan bagi kelompok lain. Masuknya industri ke daerah pedesaan bisa sangat
menguntungkan bagi sebagian penduduk desa, tetapi bahi yang lain justru
merugikan karena hilangnya udara bersih dan ketenangan di desa. Mengimpor
buah-buahan luar negeri bisa sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi konsumen
di daerah perkotaan tetapi tindakan yang sama bisa sangat merugikan petani lokal.
Maka, suhubungan itu terjadi kesulitan, siapa yang memutuskan kepentingan siapa
lebih penting daripada kepentingan orang lain. Siapa yang memutuskan manfaat
yang diperoleh kelompok tertentu lebih penting dari pada manfaat yang diperoleh
kelompok lain?
b.
Persoalan klasik yang lebih filosofis adalah bahwa utilitarianisme tidak pernah
menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri, dan hanya
memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. Padahal,
sangat mungkin terjadi suatu tindakan pada dasarnya tidak baik, tetapi ternyata
mendatangkan keuntungan atau manfaat.
c.
Dalam kaitan dengan itu, utilitarianisme
tidak pernah menganggap serius kemauan atau motivasi baik seseorang. Akibatnya,
kendati seseorang mempunya motivasi yang baik dalam melakukan tindakan
tertentu, tetapi ternyata membawa kerugian yang besar bagi banyak orang,
tindakan itu tetap dinilai tidak baik dan tidak etis. Padahal, dalam banyak
kasus, sering kita tidak bisa meramalkan dan menduga secara persis konsekuensi
atau akibat dari suatu tindakan. Sangat mungkin terjadi bahwa akibar yang
merugikan dari suatu tindakan tidak dilihat sebelumnya dan baru diketahui lama
sesudahnya.
d.
Variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Karena itu, sulit mengukur
dan membandingkan keuntungan dan kerugian hanya berdasarkan variabel yang ada.
Secara khusus sulit untuk menilai dan membandingkan variabel moral yang tidak
bisa dikuantifikasi. Polusi udara, hilangnya air bersih, kenyamanan dan
keselamatan kerja, kenyamanan produk, dan seterusnya, termasuk nyawa manusia,
tidak bisa dikuantifikasi dan sulit bisa dipakai dalam menilai baik buruknya
suatu tindakan berdasarkan manfaat-manfaat ini.
e.
Seandainya ketiga kriteria dari utilitarianisme sangat bertentangan, ada
kesulitan cukup besar untuk menentukan prioritas diantara ketiganya.
3. Analisis
Perumahan cluster yang
ada didaerah sekitar saya ini menghasilkan keuntungan yang baik serta
keuntungan yang merugikan. Keuntungan yang baik seperti, tidak perlu repot – repot
melakukan survei, mencari harga tanah sesuai anggaran, juga menilai keamanan di
wilayah tersebut dan biasanya jika memilih perumahan dari pengembang besar
telah menyiapkan berbagai fasilitas dan area komersil yang tentunya akan
mempermudah kebutuhan rumah tangga. Selain itu, kita tidak perlu pusing
memikirkan anggaran karena dapat memanfaatkan KPR, bisa dengan mudah menempati
rumah baru meski baru membayar 1/3 dari harga rumah. Pilihan desain rumah yang
tersedia cukup banyak, luas dan tipe-nya pun lebih banyak pilihannya. Dari segi
riwayat rumah bisa mengetahui dari awal, dan pastinya bisa mengetahui jenis
material apa yang digunakan untuk membangun rumah baru itu. Yang paling
penting, legalitas serta dokumen rumah lebih terjamin karena bisa meminta jaminan
dari pengembang, dana membeli rumah yang tersisa bisa digunakan untuk
perencanaan keuangan lainnya.
Perumahan cluster ini
selain mendatangkan keuntungan, juga menimbulkan kerugian. Kerugiannya seperti,
semakin buruk daerah resapan air serta daerah kawasan hijau yang ditebang yang
ada disekitarnya dan dari tiap tahun ketahun semakin banyak bisnis pembangunan perumahan
cluster ini yang mungkin bisa merusak lingkungan jika tidak tertata dengan
baik.
Jadi, sesuai dengan teori
utilitarianisme maka usaha perumahan cluster ini memberikan banyak keuntungan
untuk orang banyak (“the greatest good for the greatest number”), karena dapat
meningkatkan sosialisasi sehingga lebih terjaga, meningkatkan keamanan, fasilitas
cukup banyak, serta kebanyakan taman pun dibuat secantik dan seindah mungkin
oleh pengembang agar masyarakat merasa meskipun berada ditengah – tengah kota,
namun suasananya tetap asri. Walaupun terdapat beberapa kerugian yang diakibatkan
karena membangun perumahan cluster ini, namun ini juga mendatangkan banyak
keuntungan.
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar