Minggu, 24 April 2016

PERBEDAAN SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI


SKRIPSI
PENELITI:
ANNISA META CEMPAKA WANGI (Program Studi: Akuntasi, Universitas Diponegoro)
JUDUL PENELITIAN:
ANALISIS MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PENGAKUISISI SEBELUM DAN SESUDAH MERGER DAN AKUISISI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2008 – 2009.

ABSTRAK:


Metode Penelitian:
Metode yang digunakan adalah Uji independent sample t-test yang digunakan untuk menguji hipotesis 1, yakni untuk mengetahui apakah pihak manajemen melakukan tindakan manajemen laba dengan cara menaikkan atau menurunkan nilai akrual perusahaan pada periode sebelum pelaksanaan merger dan akuisisi. Uji paired sample test digunakan untuk menguji hipotesis 2, yakni untuk membuktikan apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan jika dilihat dari segi rasio aktivitas yang di ukur dengan total asset turnover dan rasio profitabilitas yang di ukur dengan net provit margin dan return on asset pada periode sebelum dan setelah pelaksanaan merger dan akuisisi.

Manfaat Penelitian:
1.      Perusahaan
Hasil penelitian ini digunakan sebagai informasi dan kajian tentang pengaruh ekonomis atas keputusan merger dan akuisisi.
2.      Investor
Hasil dari penelitian ini digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi dengan melihat dampak merger dan akuisisi terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan.
Hasil Penelitian:
Hasil sampel menunjukkan bahwa tidak ada indikasi manajemen laba sebelum merger dan akuisisi yang dilakukan dengan income increasing accruals. Selanjutnya kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan rasio total asset turnover mengalami kenaikan sesudah merger dan akuisisi, sedangkan net profit margin dan return on asset mengalami penurunan sesudah merger dan akuisisi.


TESIS

PENELITI:
DONNY ARLANDA ANDROMEDA ­­(Program Studi: S2 Manajemen, Universitas Diponegoro)

JUDUL PENELITIAN:

ANALISIS PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEJ YANG DIAUDIT OLEH KANTOR AKUNTAN PUBLIK BERSKALA BESAR DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK BERSKALA KECIL.

ABSTRAK:


METODE PENELITIAN:

Sampel penelitian ini sebanyak 59 perusahaan manufaktur yang go publik di Bursa Efek Jakarta, dengan metode pooling data (tahun 2004 - 2006), sehingga jumlah sampel (n) = 177. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan.

KONTRIBUSI PENELITIAN:
Kontribusi dari penelitian adalah sebagai berikut :
a.       Untuk menganalisis pengaruh manajemen laba terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Jakarta yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Berskala Besar dan Kantor Akuntan Publik Berskala Kecil.

b.      Untuk menganalisis perbedaan antara return pada perusahaan di BEJ yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Berskala Besar dan Kantor Akuntan Publik Berskala Kecil.

Hasil Penelitian:

1. Hasil penelitian bahwa secara parsial (individu) tidak terdapat pengaruh yang signifikan Manajemen Laba terhadap Return Saham, baik perusahaan yang diaudit oleh KAP Besar maupun KAP Kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa besar kecilnya manajemen laba yang dilakukan pihak manajemen perusahaan tidak berpengaruh signifikan pada kenaikan return saham perusahaan.
2. Pada uji Chow Test diperoleh nilai F hitung sebesar 12,10 lebih besar dibandingkan F tabel taraf signifikansi 5% sebesar 7,88 sehingga diperoleh hasil ada perbedaan yang signifikan return saham yang diaudit oleh KAP Besar dan KAP Kecil. Kecenderungan tindakan manajemen laba (rata-rata nilai diskresioner akrual) pada perusahaan yang diaudit oleh KAP Besar sebesar 0,0031 sedangkan tindakan manajemen laba (rata-rata nilai diskresioner akrual) pada perusahaan yang diaudit oleh KAP Kecil sebesar 0,0049 yang menunjukkan bahwa perusahaan yang diaudit oleh KAP Besar lebih kecil kecenderungan melakukan manajemen laba dibandingkan dengan perusahaan yang diaudit oleh KAP Kecil.

DISERTASI

PENELITI:
Alimuddin Rizal Riva’i ­­(Program: S3 Manajemen, Universitas Diponegoro)

JUDUL PENELITIAN:
KEKUATAN MEMAKSA DALAM PEMASARAN RELASIONAL DAN DAMPAKNYA PADA STRATEGIC MARKETING OUTCOMES (Studi Empirik pada Industri Pariwisata di Indonesia).

ABSTRAK:


METODE PENELITIAN:
Studi ini dilakukan pada organisasi bisnis pariwisata di Indonesia. Jumlah responden adalah 190 orang pimpinan/manajer organisasi. Pengukuran variabel penelitian dilakukan dengan menggunakan multiple indicator, kemudian dianalisis menggunakan model persamaan struktural (Structural Equation Modeling) dengan Software AMOS 5.0., dan SPSS.Ver.11.

KONTRIBUSI PENELITIAN:

Studi ini diarahkan untuk membangun model teoretikal dasar dan empirikal: Upaya meraih luaran-luaran pemasaran strategis berbasis pada teori pemasaran relasional dan kekuatan/kekuasaan. Mengkonfirmasi dan menguji: dampak kekuatan memaksa terhadap kepercayaan, komitmen relasional, kerjasama pemasaran, nilai-nilai hubungan jangka panjang (loyalitas, keeratan hubungan, dan pesan berantai); dan dampak nilai-nilai hubungan jangka panjang dengan luaran-luaran pemasaran strategis (sinergitas kerjasama, keunggulan posisional bersaing dan kinerja pemasaran).

HASIL PENELITIAN:

Temuan-temuan studi ini adalah:
(1)Kekuatan memaksa untuk mematuhi direspon lebih baik daripada tuntutan merubah, namun secara keseluruhan variabel ini tidak merusak kepercayaan bahkan berdampak positif terhadap komitmen relasional, intensitas kerjasama, serta tidak merusak nilai hubungan
jangka panjang
(2) Kerjasama yang intens akan berdampak positif terhadap loyalitas, keeratan hubungan dan pesan berantai positif, selanjutnya variabel variabel ini akan menciptakan sinergitas kerjasama (3) Kinerja pemasaran yang tinggi diperoleh dari keunggulan posisional bersaing dan sinergitas kerjasama, yang dilandasi oleh nilai-nilai hubungan jangka panjang. (4) Untuk mengatasi kontroversi (research gap) dalam studi ini dapat diselesaikan dengan memposisikan kekuatan/kekuasaan dan kepercayaan sebagai basis relasional yang merupakan anteseden dari komitmen relasional dan intensitas kerjasama. Selanjutnya, nilai-nilai hubungan jangka panjang merupakan modal sosial untuk memperoleh luaran-luaran pemasaran strategik. Sinergitas kerjasama diposisikan sebagai variabel mediasi antara hasil-hasil keperilakuan dalam pemasaran relasional dengan hasil-hasil pemasaran strategik. Jadi, orisinilitas temuan dalam studi ini adalah jalinan hubungan pemasaran antar organisasi akan mencapai kinerja pemasaran yang lebih tinggi bila berbasis pada teori pemasaran relasional
dan kekuatan/kekuasaan.

















PERBEDAAN SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI

Skripsi dijadikan syarat kelulusan di program S-1  dengan maksud memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat menerapkan langkah-langkah pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dan melaporkannya secara tertulis.  Biasanya, dalam skripsi tidak dituntut adanya sintesis baru atau penemuan baru.Thesis dijadikan syarat kelulusan di program S-2 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat mebuat suatu sintesis baru atau penerapan pengetahuan yang sudah ada, dan melaporkannya secara tertulis.Disertasi dijadikan syarat kelulusan di program S-3 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkana bahwa dia memahami (mengikuti) perkembangan mutakhir pengetahuan ilmiah di bidang ilmunya  dan memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu itu melalui penemuan baru yang orisinal yang dilaporkannya secara tertulis.
Pada dasarnya skripsi mahasiswa S1 merupakan ajang latihan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian secara obyektif. Oleh karena baru pertama sekali meneliti maka mahasiswa S1 ini sangat membutuhkan bimbingan dosen agar tidak melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan mereka harus mengulang. Tesis S2 merupakan ajang peningkatan kemampuan mahasiswa dalam meneliti dan diharapkan mahasiswa sudah mampu meneliti dengan bimbingan yang minimal dari dosen. Desertasi S3 merupakan pembuktian kemampuan mahasiswa S3 dalam meneliti secara mandiri.
Secara sederhana, skripsi itu menjawab apa, tesis menjawab apa dan mengapa, Dan disertasi itu menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Contoh tentang penelitian daun katuk dalam menurunkan kolesterol telur. Skripsi hanya menjawab pertanyaan apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur? Tesis itu menjawab dua pertanyaan, yaitu a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur dan; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol. Disertasi menjawab 3 pertanyaan, yaitu: a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur?; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol telur? Dan; c) bagaimana cara (mekanisme) daun katuk menurunkan kolesterol telur?
Seringkali dosen pembimbing lupa akan hal tersebut, sehingga sering meminta mahasiswa meneliti lebih dari seharusnya. Apa alasannya? Pertama, mungkin dikarenakan ketidaktahuannya dan pengalamannya sebagai mahasiswa dulu juga seperti itu. Sebagai contoh, dosen pembimbing meminta mahasiswa S1 untuk menjawab selain apa juga mengapa. Kedua, dosen pembimbing sudah tahu hal ini tetapi dikarenakan ia menginginkan data penelitian lebih, maka ia memaksakannya pada mahasiswa bimbingannya. Mungkin sang dosen bermaksud data tersebut akan dipublikasikan dimana ia sebagai penulis utamanya. Mungkin juga dosen mempunyai alasan yang lain.
Apapun alasannya, sesungguhnya dosen tidak dibenarkan untuk memaksa mahasiswa di luar ketentuan atau kesepakatan yang berlaku. Jika menginginkan data yang lebih akurat dan lebih banyak untuk menjawab permasalahan yang ada, maka sebaiknya dosen membuat proposal penelitian sendiri dan mengajukannya ke Dikti atau ke penyandang dana lainnya. Ia harus berkompetisi untuk memperoleh dana penelitian.
Tabel 1.  Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi
No
Aspek
Skripsi
Tesis
Disertasi
1
Jenjang
S1
S2
S3 (tertinggi)
2
Permasalahan
Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam
Diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalam
Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam
3
Kemandirian penulis
60% peran penulis, 40% pembimbing
80% peran penulis, 20% pembimbing
90% peran penulis, 10% pembimbing
4
Bobot Ilmiah
Rendah – sedang
Sedang – tinggi.  Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada
Tinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
5
Pemaparan
Dominan deskriptif
Deskriptif dan Analitis
Dominan analitis
6
Model Analisis
Rendah – sedang
Sedang – tinggi
Tinggi
7
Jumlah rumusan masalah
Sekitar 1-2
Minimal 3
Lebih dari 3
8
Metode / Uji statistik
Biasanya  memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dll
Biasanya memakai uji Kualitatif  lanjut  /  regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis,  ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM
Sama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
9
Jenjang Pembimbing/ Penguji
Minimal Magister
Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman
Minimal Profesor dan Doktor  yang berpengalaman
10
Orisinalitas penelitian
Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda
Mengutamakan orisinalitas
Harus orisinil
11
Penemuan hal-hal yang baru
Tidak harus
Diutamakan
Diharuskan
12
Publikasi hasil penelitian
Kampus Internal dan disarankan nasional
Minimal Nasional
Nasional dan Internasional
13
Jumlah rujukan / daftar pustaka
Minimal 20
Minimal 40
Minimal 60
14
Metode / Program statistik yang biasa digunakan
Kualitatif / Manual, Excel, SPSS dll
Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll
Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll



Sumber:

Sumber :  Agung Wahyudi Biantoro,  Metode Penelitian Ekonomi Islam, 2009

Kamis, 31 Maret 2016

Paragraf Deskripsi


Pengertian Paragraf Deskripsi

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang menjelaskan kepada pembaca mengenai suatu hal seperti objek; gagasan; tempat; atau peristiwa melalui perincian dan detail hal tersebut. Penulis menggunakan ilustrasi untuk menjelaskan hal tersebut melalui keadaan, warna, rasa, atau kesan  yang ada pada hal tersebut.

Tujuan Paragraf Deskriptif

Paragraf deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu objek sehingga pembaca bisa seolah-olah melihat, mendengar, merasakan atau mengalami objek dan peristiwa yang dideskripsikan penulis.

Jenis Paragraf Deskriptif

Secara umum, paragraf deskripsi dibedakan atas tiga macam, yaitu:
-          Paragraf deskripsi spasial adalah paragraf yang melukiskan ruang atau tempat berlangsungnya suatu peristiwa.
-          Paragraf deskripsi objektif adalah paragraf  yang menggambarkan suatu hal atau orang dengan mengungkapkan identitasnya secara apa adanya sehingga pembaca dapat membayangkan keadaannya.
-          Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.

Ciri-Ciri Paragraf Deskriptif
-          Menggambarkan atau melukiskan sesuatu.
-          Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
-          Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.

Contoh Paragraf Deskripsi

Pemandangan Pantai Mojopahit - Mojokerto sangat mempesona. di sebelah kiri terlihat tebing yang amat sangat tinggi dan di sebelah kanan kita bisa melihat batu karang besar yang seolah-olah siap menjaga gempuran ombak yang datang setiap saat. Banyaknya wisatawan yang selalu mengunjungi Pantai Mojopahit ini membuat pantai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Di pantai Mojopahit ini keta bisa bermain pasir dan merasakan hembusan segar angin laut. Kita juga bisa naik kuda ataupun angkutan sejenis andong yang bisa membawa kita ke area karang laut yang sungguh sangat indah. Disore hari, kita bisa melihat matahari terbenam yang merupakan momen sangat istimewa melihat matahari yang seolah-olah amsuk ke dalam hamparan air laut.

Paragraf Generalisasi, Analogi, Sebab – Akibat, Akibat – Akibat, dan Akibat – Sebab


1. Generalisasi

Negara Indonesia terkenal dengan banyaknya koruptor yang mencuri uang rakyat. Hampir tiap bulan selalu ada kasus korupsi yang menyedot perhatian masyarakat. Selain ditingkat pejabat banyak sekali terjadi tindakan tidak jujur yang dilakukan rakyat Indonesia berupa tindakan kriminal. Maka dapat disimpulkan orang Indonesia tidaklah jujur.

2. Analogi

Pertumbuhan tindak kejahatan korupsi di Indonesia terus bertumbuh pesat. Baru saja ada yang tertangkap sudah muncul banyak tersangka lain yang terus menghebohkan dunia perpolitikan Indonesia. Sama halnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu. Begitulah juga keadaan tindak korupsi di negara ini yang terus tumbuh pesat dan merugikan banyak orang.

3. Sebab – Akibat

Budi adalah anak yang baik. Ia suka membantu orang tua kapanpun. Kebiasaan menabung, belajar, dan suka menolong sudah ia lakukan sejak masih kecil. Sekarang ia sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang siap menjalani hidup. Akibat kebiasaan lamanya ia sudah siap menghadapi berbagai masalah yang datang silih berganti.

4. Akibat – Akibat

Sekutu melalui rapat di London, menentukan jumlah pampasan perang yang sangat memberatkan bagi negara Jerman sehingga Jerman mengalami kesulitan dalam membayarnya. Pemeritah yang menghadapi hal ini langsung mencetak uang mark sebanyak – banyaknya sehingga terjadi hyper inflasi. Akhirnya, nilai mata uang mark turun, dan uang mark dianggap sama saja dengan kertas.

5. Akibat – Sebab

Desa Nepo mengalami gagal panen. Bagaimana tidak, kemarau tahun ini cukup panjang, di samping itu irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan petani dalam menggarap pertaniannya.







Sumber :
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2013/05/contoh-paragraf-generalisasi.html
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2013/05/contoh-paragraf-analogi.html
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2013/05/contoh-paragraf-sebab-akibat.html
http://rhyaria.blogspot.co.id/2011/03/contoh-dari-kalimat-generalisasi.html

Analisis Berita Online










  1.      Pada berita yang berjudul “Antam Raih Penjualan Bersih Rp 10,55 Triliun” mengandung paragraf deduktif, karena pada paragraf  1 menjelaskan dari umum ke khusus bahwa “TEMPO.CO, Jakarta – Perusahaan tambang milik Pemerintah, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, mencatatkan peningkatan penjualan bersih sebelum diaudit sebesar Rp 10,55 Triliun di 2015.

  2.      Wujud Evidensi
Data :
§  Penjualan tersebut naik 12 persen dibandingkan pencapaian pada 2014 lalu.
§  Komoditas tersebut menyumbang pendapatan Rp 7,31 Triliun.
§  69 persen dari total penjualan bersih.
§  Meski industri pertambangan global mengalami volatilitas, komoditas ini menyumbang Rp 2,74 triliun atau 26 persen dari total penjualan bersih.
§  Antam mencatatkan volume produksi sebesar 4.372 Tni dibandingkan periode yang sama tahun lalu 5.141 Tni.
§  Volume penjualan dikuartal empat tercatat sebesar 5.255 Tni dibandingkan penjualan di periode yang sama tahun lalu sebesar 6.923 Tni.
§  Antam membukukan penjualan bersih feronikel sebesar Rp 601,29 miliar di kuartal empat 2015.
§  Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan pada 2014 lalu yang mencatatkan Rp 1,37 triliun.
§  Pendapatan di kuartal akhir 2015,  perusahaan pelat merah memperoleh pendapatan sebelum diaudit mencapai Rp 1,51 triliun.
§  Di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,61 triliun.
Informasi :
§   Direktur Utama Antam Tedy Badjruman mengatakan peningkatan ini karena naiknya penjualan emas.
§   Selain emas, feronikel menjadi penyumbang terbesar kedua pendapatan perseroan.
  3.      Kesimpulan Inferensi / Implikasi
 Pada berita ini mengandung kesimpulan yang Implikasi, karena penulis melibatkan dirinya secara langsung dengan mewawancarai Teddy Badjruman dalam keterbukaan di Bursa Efek Indonesia, Jumat, 29 Januari 2015.
  4.      Menguji data
§  Cara menguji data : 
    a. Kesaksian
Pada berita koran yang berjudul “Antam Raih Penjualan Bersih Rp 10,55 Triliun” berdasarkan pendapat dari Direktur Utama Antam Tedy Badjruman dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (29/01) yang terdapat pada paragraf 2 mengatakan peningkatan ini karena naiknya penjualan emas. Komoditas tersebut menyumbang pendapatan Rp 7,31 triliun. “69 persen dari total penjualan
bersih,”ujar Tedy dan paragraf 4 “Volume penjualan di kuartal empat tercatat sebesar 5.255 Tni dibandingkan penjualan di periode yang sama tahun lalu sebesar 6.923 Tni.”kata Tedy.

    b.  Autoritas
§  Direktur Utama PT Antam (paragraf 2)

    c.   Observasi
Cara menguji data, penulis menggunakan teknik wawancara untuk mengumpulkan Informasi, sehingga penulis melakukan wawancara dengan :
§  Direktur Utama PT ANTAM




Sumber : www.TEMPO.CO.id

Jumat, 18 Maret 2016

Analisis Berita Koran




  1. Pada berita yang berjudul “Skema Upah Buruh Diubah” mengandung paragraf deduktif, karena pada paragraf  1 menjelaskan dari umum ke khusus bahwa “JAKARTA – Pemerintah mengumumkan paket kebijakan IV di Kantor Presiden, Kamis (15/10). Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution mengatakan, salah satu kebijakan yang ditetapkan pemerintah adalah skema baru pengupahan buruh.

   2.      Wujud Evidensi
                 Data 
 §  Berarti kalau inflasi 5 persen dan pertumbuhan ekonomi 5 persen, tahun depan di daerah itu UMP ditambah 10 persen.
 § Dengan demikian, kalau ada daerah yang UMP-nya masih 20 persen dibawah KHL, kekurangan itu akan   dicicil selama empat tahun.
 § Ini berarti, Rp 2,7 juta ditambah Rp 2,7 juta dikali 10 persen hasilnya Rp 2,7 juta ditambah Rp 270 ribu yakni Rp 2.970 ribu.
 §  Setidaknya, 2 juta buruh diperkirakan akan mogok, termasuk pekerja pelabuhan dan pekerja jalan tol.
 §  Pemerintah pun menurunkan bungaKUR dari 22 persen menjadi 12 persen.
 §  Kebijakan lainnya, pemerintah memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada 30 perusahaan eksportir beserta perusahaan pendukung ekspor.
 §  Industri alat berat PHK 4.000 pekerja.
             
           Informasi
§ Darmin memastikan, skema ini tak akan merugikan buruh karena mereka tetap akan menikmati kenaikan gaji setiap tahun.
§   Pada prinsipnya, upah minimum provinsi (UMP) dalam tahun berjalan akan menjadi dasar perhitungan untuk UMP pada tahun berikutnya dengan ditambah angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

  3. Kesimpulan Inferensi / Implikasi
     Pada berita ini mengandung kesimpulan yang Inferensi, karena pembaca tidak langsung terlibat dalam berita tersebut, karena sudah dijelaskan bahwa penulis menguntip hasil wawancara.

   4. Menguji data
     §  Cara menguji data :
              a.       Kesaksian
Pada berita koran yang berjudul “Skema Upah Buruh Diubah” berdasarkan pendapat dari Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution di Kantor Presiden, Kamis (15/10) yang terdapat pada paragraf 1, yaitu mengatakan salah satu kebijakan yang ditetapkan pemerintah adalah skema baru pengupahan buruh dan pada paragraf 2, yaitu Darmin memastikan skema ini tak akan merugikan buruh karena mereka tetap akan menikmati kenaikan gaji setiap tahun hanya saja, melalui skema ini, pemerintah memberikan kepastian soal berapa kenaikan yang akan diterima pekerja dan dibayarkan perusahaan.

              b.      Autoritas
§  Menteri Koordinator Bidang Ekonomi (paragraf 1)
§  Menteri Tenaga Kerja (paragraf 8)
§  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) (paragraf 11)

              c.       Observasi
Cara menguji data, penulis menggunakan teknik wawancara untuk mengumpulkan Informasi, sehingga penulis melakukan wawancara dengan :
§  Menteri Koordinator Bidang Ekonomi
§  Menteri Tenaga Kerja
§  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)

Minggu, 03 Januari 2016

REVIEW JURNAL


          TEMA : PERILAKU KONSUMEN

    1.      Judul                  : Analisis Perilaku Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Sayur Organik CV Golden Leaf Farm B
    2.  Penulis               : I M. Pasek Suardika, I GAA. Ambarawati
    3.    Tahun                 : 2014
    4.      Latar Belakang  :

Terkait dengan pembelian produk, ada beberapa atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam membandingkan antara makanan organik dengan makanan non organik. Pada umumnya konsumen menilai kualitas suatu produk dari tampilannya (Beharrell dan Macfie, 1991), namun hal ini nampaknya bukan merupakan hal yang penting bagi konsumen yang memiliki minat yang tinggi terhadap produk organik. Rasa, kesegaran, daya tahan (usia) produk (Wandel dan Bugge, 1996), harga (Fotopoulos dan Krystallis, 2003), dampak terhadap lingkungan dan makhluk hidup (Lea dan Worsley, 2005; Goldman dan Clancy, 1991), kandungan zat kimia dan kesehatan (Wandel dan Bugge, 1996, Chinnici, et al., 2002, Harper dan Makatouni, 2002) dinilai merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian (Bonti dan Yiridoe, 2006).
Berdasarkan paparan di atas, terdapat persepsi yang berbeda-beda mengenai faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Sebagai contoh, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mempersepsikan tidak adanya perbedaan rasa antara makanan organik dengan makanan nonorganik (Jolly dan Norris, 1991; Sparling, et al., 1992 dalam Thio, 2008), sedangkan hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa makanan organik memiliki rasa yang lebih baik dibandingkan makanan nonorganik (Estes, et al., 1994; Parker, 1996 dalamThio, 2008).
Dalam penelitian lain (Chinnici, et al., 2002; Harper dan Makatouni, 2002; O’Donovan dan McCarthy, 2002; Hill dan Lynchechaun, 2002; Hutchins dan Greenhalgl, 1995; Berrahel dan MacFie, 1991; Pearson, 2001), menunjukkan bahwa alasan konsumen dalam membeli makanan organik adalah karena keyakinan konsumen bahwa makanan organik lebih sehat dibandingkan makanan anorganik. Perbedaan persepsi ini berdasarkan pada tingkat pengetahuan dan kesadaran konsumen (Jolly, etal., 1989; Ekelund, 1990; Hutchins dan Greenhalgh, 1995; Cunningham, 2002 dalam Thio, 2008), kebiasaan (habit) atau pola belanja konsumen (Magnusson, et al., 2001) dan faktor keberadaan atau eksistensi makanan organik dan nonorganik di masyarakat (Sparling, et al., 1992 dalam Thio, 2008). Peluang pasar pertanian organik di Bali cukup potensial, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, supermarket, hotel maupun restoran dengan jumlah yang banyak sekali di Pulau Bali. Kondisi ini memberikan peluang bagi petani organik di Bali, dengan berbagai keunggulan komparatif yang dimiliki petani, antara lain: 1) masih banyaknya sumberdaya lahan yang masih dapat dikembangkan menjadi pertanian organik, 2) Teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan pupuk organik padat, cair, pestisida hayati, nabati, dan lain-lainya, 3) Jarak angkut dari produsen ke konsumen relatif dekat.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan pertanian organik di Bali adalah CV Golden Leaf Farm Bali yang merupakan pionir sayuran organik di pulau dewata. Produksi dan penjualan sayur organik yang dihasilkan CV Golden Leaf Farm Bali dari tahun 2008 – 2012 menunjukkan perkembangan positif., peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 1.2 dimana Jumlah produksi dan penjualan dari tahun 2008 sampai tahun 2009 kenaikan sebesar 2,38% , tahun 2009 sampai  tahun 2010 kenaikan sebesar 4,65%, tahun 2010 sampai tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 20%, dan tahun 2011 sampai tahun 2012 juga mengalami kenaikan terbesar yaitu mencapai  22,22%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di CV Golden Leaf Farm Bali, didapat beberapa informasi dari pihak managernya bahwa sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali sudah memiliki brand name yang kuat dibenak konsumen dengan standar kualitas yang terjamin. Hal ini terbukti dari sertifikasi organik yang sudah dimiliki dari LeSOS (Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman) No : LSPO – 005 – IDN – 014 yang menyatakan GLF telah memenuhi persyaratan secara konsisten
Pedoman SNI Pangan Organik 01-6729-2002. Proses produksi dilakukan dalam satu area lokasi seluas 9,8 hektar merupakan potensi yang sangat besar untuk keberlanjutan usaha. Disatu sisi, karena potensi pasar organik yang cukup besar, saat ini muncul beberapa pesaing CV Golden Leaf Farm Bali di pasaran.
Berkembangnya CV Golden Leaf Farm Bali sebagai perusahaan penghasil sayur organik  tidak terlepas dari perilaku konsumen yang mengkonsumsi produk nya. Perencanaan jangka panjang perusahaan perlu mengkaji karakteristik dan perilaku konsumen yang mengkonsumsi produk sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali. Hal ini mengingat konsumen sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan di masa mendatang.

      5.      Metodologi         :

Penelitian ini dilakukan di CV Golden Leaf Farm Bali sebagai basic research tempat penelitian yang berlokasi di Dusun Asah, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng - Bali dan di Supermarket untuk pengambilan responden yang diteliti. Adapun supermarket yang dijadikan lokasi penelitian untuk pengambilan responden adalah supermarket yang memiliki tingkat pembelian tertinggi di CV Golden Leaf Farm Bali yaitu : 1) Carrefour Imam Bonjol, 2) Balideli Sanur, 3)  Bintang Seminyak, 4) Pepaya, Uluwatu Kuta, 5) Pepito Kuta, 6) Carrefour Singaraja, 7) Tiara Dewata Denpasar, 8) Canggu Deli. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh konsumen yang membeli sayur organik produksi CV Golden Leaf Farm Bali di Bali. Untuk teknik pengambilan sampel yang digunakan penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010) purposive sampling adalah teknik   sampel dengan pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan sampel adalah jumlah variabel independen yang digunakan sebanyak 8, sehingga ukuran sampel yang digunakan adalah 8 x 25 = 200. Dengan demikian jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 200 sampel/responden  yang  telah pernah membeli  minimal sebanyak 5 kali. Pertimbangan ini dimaksudkan jika konsumen  telah  membeli minimal sebanyak 5 kali mengindikasikan konsumen yang bersangkutan sudah mengenal dengan baik mengenai produk, harga dan persepsi serta pengetahuannya tentang sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model persamaan struktural (Structural Equation Modeling – SEM) berbasis variance atau Component based SEM, yang terkenal disebut Partial Least Square (PLS) Visual version 1.04bl. Tujuannya adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi. Variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya. Weightestimate untuk menciptakan komponen skor variabel laten ddidapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outler model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari variabel independen (keduanya variabel laten dan indikator) diminimumkan.

      6.      Isi / Hasil            :

Evaluasi Koefisien Jalur Struktural
Mengacu tujuan penelitian yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya yaitu untuk menganalisis faktor psikologis dan faktor bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian konsumen, maka berikut akan dilakukan analisis terhadap hasil pengujian model untuk mengetahui koefisien masing – masing jalur. Berdasarkan model yang terbentuk, analisis dengan PLS dilakukan dalam dua tahap yaitu pengaruh langsung dari konstruk eksogen motivasi, persepsi, pembelajaran dan sikap yang merupakan bagian dari faktor psikologis serta konstruk produk, harga, promosi dan lokasi yang merupakan bagian dari faktor bauran pemasaran terhadap kostruk endogen keputusan pembelian. Sehingga model pertama yang diuji adalah first order model PLS dan tahap kedua adalah second order model PLS. Untuk lebih jelasnya berikut akan dipaparkan hasil pengujian model masing –masing tahap. Pengujian dengan first order PLS yang dilakukan untuk menjawab hipotesis penelitian dan juga untuk mengetahui besarnya pengaruh masing – masing konstruk eksogen dari motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, produk, harga, promosi dan lokasi terhadap konsrruk endogen keputusan pembelian.

Pengaruh faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap) terhadap keputusan pembelian

Hubungan antara motivasi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,4120 dengan nilai t-statistik sebesar 6,3747 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara motivasi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara persepsi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0360 dengan nilai t-statistik sebesar 1,1831 (< 1,96). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara persepsi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara pembelajaran dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,2720 dengan nilai t-statistik sebesar 5,8392 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara pembelajaran dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara sikap dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,3640 dengan nilai Tstatistik sebesar 9,7865 (> 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara persepsi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF.
Pengaruh faktor bauran pemasaran (produk, harga, promosi, lokasi) terhadap keputusan pembelian. Hubungan antara produk dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,2160 dengan nilai t-statistik sebesar 5,4891 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara produk dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara harga dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar – 0,1840 dengan nilai t-statistik sebesar – 4, 7739 (> 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan negatif dan signifikan antara harga dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara promosi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0370 dengan nilai Tstatistik sebesar 0,9734 (< 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara promosi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara lokasi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0350 dengan nilai T-statistik sebesar 1,0586 (< 1,96). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara lokasi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan yang positif dan negatif serta hubungan yang signifikan dan tidak signifikan. Pola hubungan positif terdapat pada jalur motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, produk, promosi dan lokasi terhadap keputusan pembelian. Hal ini berarti semakin memenuhi atau semakin baik aspek – aspek tersebut maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin tinggi, sebaliknya semakin kurang memenuhi/baik aspek – aspek tersebut maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin menurun. Pola hubungan negatif terdapat pada jalur harga terhadap keputusan pembelian. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat harga dari produk maka keputusan yang terjadi akan semakin menurun, sebaliknya semakin menurun tingkat harga produk maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin meningkat. Sedangkan tingkat signifikansi jalur yang terbentuk, terdapat empat jalur yang memiliki pengaruh signifikan, serta tiga jalur yang memiliki pengaruh tidak signifikan. Pengaruh signifikan ditunjukkan oleh konstruk motivasi, pembelajaran, sikap, produk dan harga terhadap keputusan pembelian karena nilai t-statistik di atas 2,58 (taraf kesalahan 1%). Sedangkan konstruk persepsi, promosi dan lokasi menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian karena nilai t-statistik di bawah 1,96 (taraf kesalahan 5%).
       
      7.      Kesimpulan        :
`
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

1. Faktor psikologis yang terdiri atas: motivasi, pembelajaran, dan sikap berpengaruh positif dan sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali, tetapi persepsi tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.

2. Faktor bauran pemasaran produk berpengaruh positif dan sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali, tetapi harga berpengaruh negatif namun sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf farm Bali.

3. Faktor  promosi dan lokasi berpengaruh positif  namun tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.