Kamis, 31 Maret 2016

Paragraf Deskripsi


Pengertian Paragraf Deskripsi

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang menjelaskan kepada pembaca mengenai suatu hal seperti objek; gagasan; tempat; atau peristiwa melalui perincian dan detail hal tersebut. Penulis menggunakan ilustrasi untuk menjelaskan hal tersebut melalui keadaan, warna, rasa, atau kesan  yang ada pada hal tersebut.

Tujuan Paragraf Deskriptif

Paragraf deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu objek sehingga pembaca bisa seolah-olah melihat, mendengar, merasakan atau mengalami objek dan peristiwa yang dideskripsikan penulis.

Jenis Paragraf Deskriptif

Secara umum, paragraf deskripsi dibedakan atas tiga macam, yaitu:
-          Paragraf deskripsi spasial adalah paragraf yang melukiskan ruang atau tempat berlangsungnya suatu peristiwa.
-          Paragraf deskripsi objektif adalah paragraf  yang menggambarkan suatu hal atau orang dengan mengungkapkan identitasnya secara apa adanya sehingga pembaca dapat membayangkan keadaannya.
-          Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.

Ciri-Ciri Paragraf Deskriptif
-          Menggambarkan atau melukiskan sesuatu.
-          Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
-          Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.

Contoh Paragraf Deskripsi

Pemandangan Pantai Mojopahit - Mojokerto sangat mempesona. di sebelah kiri terlihat tebing yang amat sangat tinggi dan di sebelah kanan kita bisa melihat batu karang besar yang seolah-olah siap menjaga gempuran ombak yang datang setiap saat. Banyaknya wisatawan yang selalu mengunjungi Pantai Mojopahit ini membuat pantai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Di pantai Mojopahit ini keta bisa bermain pasir dan merasakan hembusan segar angin laut. Kita juga bisa naik kuda ataupun angkutan sejenis andong yang bisa membawa kita ke area karang laut yang sungguh sangat indah. Disore hari, kita bisa melihat matahari terbenam yang merupakan momen sangat istimewa melihat matahari yang seolah-olah amsuk ke dalam hamparan air laut.

Paragraf Generalisasi, Analogi, Sebab – Akibat, Akibat – Akibat, dan Akibat – Sebab


1. Generalisasi

Negara Indonesia terkenal dengan banyaknya koruptor yang mencuri uang rakyat. Hampir tiap bulan selalu ada kasus korupsi yang menyedot perhatian masyarakat. Selain ditingkat pejabat banyak sekali terjadi tindakan tidak jujur yang dilakukan rakyat Indonesia berupa tindakan kriminal. Maka dapat disimpulkan orang Indonesia tidaklah jujur.

2. Analogi

Pertumbuhan tindak kejahatan korupsi di Indonesia terus bertumbuh pesat. Baru saja ada yang tertangkap sudah muncul banyak tersangka lain yang terus menghebohkan dunia perpolitikan Indonesia. Sama halnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu. Begitulah juga keadaan tindak korupsi di negara ini yang terus tumbuh pesat dan merugikan banyak orang.

3. Sebab – Akibat

Budi adalah anak yang baik. Ia suka membantu orang tua kapanpun. Kebiasaan menabung, belajar, dan suka menolong sudah ia lakukan sejak masih kecil. Sekarang ia sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang siap menjalani hidup. Akibat kebiasaan lamanya ia sudah siap menghadapi berbagai masalah yang datang silih berganti.

4. Akibat – Akibat

Sekutu melalui rapat di London, menentukan jumlah pampasan perang yang sangat memberatkan bagi negara Jerman sehingga Jerman mengalami kesulitan dalam membayarnya. Pemeritah yang menghadapi hal ini langsung mencetak uang mark sebanyak – banyaknya sehingga terjadi hyper inflasi. Akhirnya, nilai mata uang mark turun, dan uang mark dianggap sama saja dengan kertas.

5. Akibat – Sebab

Desa Nepo mengalami gagal panen. Bagaimana tidak, kemarau tahun ini cukup panjang, di samping itu irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan petani dalam menggarap pertaniannya.







Sumber :
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2013/05/contoh-paragraf-generalisasi.html
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2013/05/contoh-paragraf-analogi.html
http://tommysyatriadi.blogspot.co.id/2013/05/contoh-paragraf-sebab-akibat.html
http://rhyaria.blogspot.co.id/2011/03/contoh-dari-kalimat-generalisasi.html

Analisis Berita Online










  1.      Pada berita yang berjudul “Antam Raih Penjualan Bersih Rp 10,55 Triliun” mengandung paragraf deduktif, karena pada paragraf  1 menjelaskan dari umum ke khusus bahwa “TEMPO.CO, Jakarta – Perusahaan tambang milik Pemerintah, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, mencatatkan peningkatan penjualan bersih sebelum diaudit sebesar Rp 10,55 Triliun di 2015.

  2.      Wujud Evidensi
Data :
§  Penjualan tersebut naik 12 persen dibandingkan pencapaian pada 2014 lalu.
§  Komoditas tersebut menyumbang pendapatan Rp 7,31 Triliun.
§  69 persen dari total penjualan bersih.
§  Meski industri pertambangan global mengalami volatilitas, komoditas ini menyumbang Rp 2,74 triliun atau 26 persen dari total penjualan bersih.
§  Antam mencatatkan volume produksi sebesar 4.372 Tni dibandingkan periode yang sama tahun lalu 5.141 Tni.
§  Volume penjualan dikuartal empat tercatat sebesar 5.255 Tni dibandingkan penjualan di periode yang sama tahun lalu sebesar 6.923 Tni.
§  Antam membukukan penjualan bersih feronikel sebesar Rp 601,29 miliar di kuartal empat 2015.
§  Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan pada 2014 lalu yang mencatatkan Rp 1,37 triliun.
§  Pendapatan di kuartal akhir 2015,  perusahaan pelat merah memperoleh pendapatan sebelum diaudit mencapai Rp 1,51 triliun.
§  Di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,61 triliun.
Informasi :
§   Direktur Utama Antam Tedy Badjruman mengatakan peningkatan ini karena naiknya penjualan emas.
§   Selain emas, feronikel menjadi penyumbang terbesar kedua pendapatan perseroan.
  3.      Kesimpulan Inferensi / Implikasi
 Pada berita ini mengandung kesimpulan yang Implikasi, karena penulis melibatkan dirinya secara langsung dengan mewawancarai Teddy Badjruman dalam keterbukaan di Bursa Efek Indonesia, Jumat, 29 Januari 2015.
  4.      Menguji data
§  Cara menguji data : 
    a. Kesaksian
Pada berita koran yang berjudul “Antam Raih Penjualan Bersih Rp 10,55 Triliun” berdasarkan pendapat dari Direktur Utama Antam Tedy Badjruman dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (29/01) yang terdapat pada paragraf 2 mengatakan peningkatan ini karena naiknya penjualan emas. Komoditas tersebut menyumbang pendapatan Rp 7,31 triliun. “69 persen dari total penjualan
bersih,”ujar Tedy dan paragraf 4 “Volume penjualan di kuartal empat tercatat sebesar 5.255 Tni dibandingkan penjualan di periode yang sama tahun lalu sebesar 6.923 Tni.”kata Tedy.

    b.  Autoritas
§  Direktur Utama PT Antam (paragraf 2)

    c.   Observasi
Cara menguji data, penulis menggunakan teknik wawancara untuk mengumpulkan Informasi, sehingga penulis melakukan wawancara dengan :
§  Direktur Utama PT ANTAM




Sumber : www.TEMPO.CO.id

Jumat, 18 Maret 2016

Analisis Berita Koran




  1. Pada berita yang berjudul “Skema Upah Buruh Diubah” mengandung paragraf deduktif, karena pada paragraf  1 menjelaskan dari umum ke khusus bahwa “JAKARTA – Pemerintah mengumumkan paket kebijakan IV di Kantor Presiden, Kamis (15/10). Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution mengatakan, salah satu kebijakan yang ditetapkan pemerintah adalah skema baru pengupahan buruh.

   2.      Wujud Evidensi
                 Data 
 §  Berarti kalau inflasi 5 persen dan pertumbuhan ekonomi 5 persen, tahun depan di daerah itu UMP ditambah 10 persen.
 § Dengan demikian, kalau ada daerah yang UMP-nya masih 20 persen dibawah KHL, kekurangan itu akan   dicicil selama empat tahun.
 § Ini berarti, Rp 2,7 juta ditambah Rp 2,7 juta dikali 10 persen hasilnya Rp 2,7 juta ditambah Rp 270 ribu yakni Rp 2.970 ribu.
 §  Setidaknya, 2 juta buruh diperkirakan akan mogok, termasuk pekerja pelabuhan dan pekerja jalan tol.
 §  Pemerintah pun menurunkan bungaKUR dari 22 persen menjadi 12 persen.
 §  Kebijakan lainnya, pemerintah memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada 30 perusahaan eksportir beserta perusahaan pendukung ekspor.
 §  Industri alat berat PHK 4.000 pekerja.
             
           Informasi
§ Darmin memastikan, skema ini tak akan merugikan buruh karena mereka tetap akan menikmati kenaikan gaji setiap tahun.
§   Pada prinsipnya, upah minimum provinsi (UMP) dalam tahun berjalan akan menjadi dasar perhitungan untuk UMP pada tahun berikutnya dengan ditambah angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

  3. Kesimpulan Inferensi / Implikasi
     Pada berita ini mengandung kesimpulan yang Inferensi, karena pembaca tidak langsung terlibat dalam berita tersebut, karena sudah dijelaskan bahwa penulis menguntip hasil wawancara.

   4. Menguji data
     §  Cara menguji data :
              a.       Kesaksian
Pada berita koran yang berjudul “Skema Upah Buruh Diubah” berdasarkan pendapat dari Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution di Kantor Presiden, Kamis (15/10) yang terdapat pada paragraf 1, yaitu mengatakan salah satu kebijakan yang ditetapkan pemerintah adalah skema baru pengupahan buruh dan pada paragraf 2, yaitu Darmin memastikan skema ini tak akan merugikan buruh karena mereka tetap akan menikmati kenaikan gaji setiap tahun hanya saja, melalui skema ini, pemerintah memberikan kepastian soal berapa kenaikan yang akan diterima pekerja dan dibayarkan perusahaan.

              b.      Autoritas
§  Menteri Koordinator Bidang Ekonomi (paragraf 1)
§  Menteri Tenaga Kerja (paragraf 8)
§  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) (paragraf 11)

              c.       Observasi
Cara menguji data, penulis menggunakan teknik wawancara untuk mengumpulkan Informasi, sehingga penulis melakukan wawancara dengan :
§  Menteri Koordinator Bidang Ekonomi
§  Menteri Tenaga Kerja
§  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)

Minggu, 03 Januari 2016

REVIEW JURNAL


          TEMA : PERILAKU KONSUMEN

    1.      Judul                  : Analisis Perilaku Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Sayur Organik CV Golden Leaf Farm B
    2.  Penulis               : I M. Pasek Suardika, I GAA. Ambarawati
    3.    Tahun                 : 2014
    4.      Latar Belakang  :

Terkait dengan pembelian produk, ada beberapa atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam membandingkan antara makanan organik dengan makanan non organik. Pada umumnya konsumen menilai kualitas suatu produk dari tampilannya (Beharrell dan Macfie, 1991), namun hal ini nampaknya bukan merupakan hal yang penting bagi konsumen yang memiliki minat yang tinggi terhadap produk organik. Rasa, kesegaran, daya tahan (usia) produk (Wandel dan Bugge, 1996), harga (Fotopoulos dan Krystallis, 2003), dampak terhadap lingkungan dan makhluk hidup (Lea dan Worsley, 2005; Goldman dan Clancy, 1991), kandungan zat kimia dan kesehatan (Wandel dan Bugge, 1996, Chinnici, et al., 2002, Harper dan Makatouni, 2002) dinilai merupakan faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian (Bonti dan Yiridoe, 2006).
Berdasarkan paparan di atas, terdapat persepsi yang berbeda-beda mengenai faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Sebagai contoh, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mempersepsikan tidak adanya perbedaan rasa antara makanan organik dengan makanan nonorganik (Jolly dan Norris, 1991; Sparling, et al., 1992 dalam Thio, 2008), sedangkan hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa makanan organik memiliki rasa yang lebih baik dibandingkan makanan nonorganik (Estes, et al., 1994; Parker, 1996 dalamThio, 2008).
Dalam penelitian lain (Chinnici, et al., 2002; Harper dan Makatouni, 2002; O’Donovan dan McCarthy, 2002; Hill dan Lynchechaun, 2002; Hutchins dan Greenhalgl, 1995; Berrahel dan MacFie, 1991; Pearson, 2001), menunjukkan bahwa alasan konsumen dalam membeli makanan organik adalah karena keyakinan konsumen bahwa makanan organik lebih sehat dibandingkan makanan anorganik. Perbedaan persepsi ini berdasarkan pada tingkat pengetahuan dan kesadaran konsumen (Jolly, etal., 1989; Ekelund, 1990; Hutchins dan Greenhalgh, 1995; Cunningham, 2002 dalam Thio, 2008), kebiasaan (habit) atau pola belanja konsumen (Magnusson, et al., 2001) dan faktor keberadaan atau eksistensi makanan organik dan nonorganik di masyarakat (Sparling, et al., 1992 dalam Thio, 2008). Peluang pasar pertanian organik di Bali cukup potensial, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, supermarket, hotel maupun restoran dengan jumlah yang banyak sekali di Pulau Bali. Kondisi ini memberikan peluang bagi petani organik di Bali, dengan berbagai keunggulan komparatif yang dimiliki petani, antara lain: 1) masih banyaknya sumberdaya lahan yang masih dapat dikembangkan menjadi pertanian organik, 2) Teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan pupuk organik padat, cair, pestisida hayati, nabati, dan lain-lainya, 3) Jarak angkut dari produsen ke konsumen relatif dekat.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan pertanian organik di Bali adalah CV Golden Leaf Farm Bali yang merupakan pionir sayuran organik di pulau dewata. Produksi dan penjualan sayur organik yang dihasilkan CV Golden Leaf Farm Bali dari tahun 2008 – 2012 menunjukkan perkembangan positif., peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 1.2 dimana Jumlah produksi dan penjualan dari tahun 2008 sampai tahun 2009 kenaikan sebesar 2,38% , tahun 2009 sampai  tahun 2010 kenaikan sebesar 4,65%, tahun 2010 sampai tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 20%, dan tahun 2011 sampai tahun 2012 juga mengalami kenaikan terbesar yaitu mencapai  22,22%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di CV Golden Leaf Farm Bali, didapat beberapa informasi dari pihak managernya bahwa sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali sudah memiliki brand name yang kuat dibenak konsumen dengan standar kualitas yang terjamin. Hal ini terbukti dari sertifikasi organik yang sudah dimiliki dari LeSOS (Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman) No : LSPO – 005 – IDN – 014 yang menyatakan GLF telah memenuhi persyaratan secara konsisten
Pedoman SNI Pangan Organik 01-6729-2002. Proses produksi dilakukan dalam satu area lokasi seluas 9,8 hektar merupakan potensi yang sangat besar untuk keberlanjutan usaha. Disatu sisi, karena potensi pasar organik yang cukup besar, saat ini muncul beberapa pesaing CV Golden Leaf Farm Bali di pasaran.
Berkembangnya CV Golden Leaf Farm Bali sebagai perusahaan penghasil sayur organik  tidak terlepas dari perilaku konsumen yang mengkonsumsi produk nya. Perencanaan jangka panjang perusahaan perlu mengkaji karakteristik dan perilaku konsumen yang mengkonsumsi produk sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali. Hal ini mengingat konsumen sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan di masa mendatang.

      5.      Metodologi         :

Penelitian ini dilakukan di CV Golden Leaf Farm Bali sebagai basic research tempat penelitian yang berlokasi di Dusun Asah, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng - Bali dan di Supermarket untuk pengambilan responden yang diteliti. Adapun supermarket yang dijadikan lokasi penelitian untuk pengambilan responden adalah supermarket yang memiliki tingkat pembelian tertinggi di CV Golden Leaf Farm Bali yaitu : 1) Carrefour Imam Bonjol, 2) Balideli Sanur, 3)  Bintang Seminyak, 4) Pepaya, Uluwatu Kuta, 5) Pepito Kuta, 6) Carrefour Singaraja, 7) Tiara Dewata Denpasar, 8) Canggu Deli. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh konsumen yang membeli sayur organik produksi CV Golden Leaf Farm Bali di Bali. Untuk teknik pengambilan sampel yang digunakan penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010) purposive sampling adalah teknik   sampel dengan pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan sampel adalah jumlah variabel independen yang digunakan sebanyak 8, sehingga ukuran sampel yang digunakan adalah 8 x 25 = 200. Dengan demikian jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 200 sampel/responden  yang  telah pernah membeli  minimal sebanyak 5 kali. Pertimbangan ini dimaksudkan jika konsumen  telah  membeli minimal sebanyak 5 kali mengindikasikan konsumen yang bersangkutan sudah mengenal dengan baik mengenai produk, harga dan persepsi serta pengetahuannya tentang sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model persamaan struktural (Structural Equation Modeling – SEM) berbasis variance atau Component based SEM, yang terkenal disebut Partial Least Square (PLS) Visual version 1.04bl. Tujuannya adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi. Variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya. Weightestimate untuk menciptakan komponen skor variabel laten ddidapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outler model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari variabel independen (keduanya variabel laten dan indikator) diminimumkan.

      6.      Isi / Hasil            :

Evaluasi Koefisien Jalur Struktural
Mengacu tujuan penelitian yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya yaitu untuk menganalisis faktor psikologis dan faktor bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian konsumen, maka berikut akan dilakukan analisis terhadap hasil pengujian model untuk mengetahui koefisien masing – masing jalur. Berdasarkan model yang terbentuk, analisis dengan PLS dilakukan dalam dua tahap yaitu pengaruh langsung dari konstruk eksogen motivasi, persepsi, pembelajaran dan sikap yang merupakan bagian dari faktor psikologis serta konstruk produk, harga, promosi dan lokasi yang merupakan bagian dari faktor bauran pemasaran terhadap kostruk endogen keputusan pembelian. Sehingga model pertama yang diuji adalah first order model PLS dan tahap kedua adalah second order model PLS. Untuk lebih jelasnya berikut akan dipaparkan hasil pengujian model masing –masing tahap. Pengujian dengan first order PLS yang dilakukan untuk menjawab hipotesis penelitian dan juga untuk mengetahui besarnya pengaruh masing – masing konstruk eksogen dari motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, produk, harga, promosi dan lokasi terhadap konsrruk endogen keputusan pembelian.

Pengaruh faktor psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap) terhadap keputusan pembelian

Hubungan antara motivasi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,4120 dengan nilai t-statistik sebesar 6,3747 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara motivasi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara persepsi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0360 dengan nilai t-statistik sebesar 1,1831 (< 1,96). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara persepsi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara pembelajaran dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,2720 dengan nilai t-statistik sebesar 5,8392 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara pembelajaran dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara sikap dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,3640 dengan nilai Tstatistik sebesar 9,7865 (> 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara persepsi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF.
Pengaruh faktor bauran pemasaran (produk, harga, promosi, lokasi) terhadap keputusan pembelian. Hubungan antara produk dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,2160 dengan nilai t-statistik sebesar 5,4891 (>2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan signifikan antara produk dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara harga dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar – 0,1840 dengan nilai t-statistik sebesar – 4, 7739 (> 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan negatif dan signifikan antara harga dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara promosi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0370 dengan nilai Tstatistik sebesar 0,9734 (< 2,58). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara promosi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hubungan antara lokasi dengan keputusan pembelian menunjukkan pengaruh sebesar 0,0350 dengan nilai T-statistik sebesar 1,0586 (< 1,96). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan positif dan tidak signifikan antara lokasi dengan keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk sayur organik merek GLF. Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa terdapat pola hubungan yang positif dan negatif serta hubungan yang signifikan dan tidak signifikan. Pola hubungan positif terdapat pada jalur motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, produk, promosi dan lokasi terhadap keputusan pembelian. Hal ini berarti semakin memenuhi atau semakin baik aspek – aspek tersebut maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin tinggi, sebaliknya semakin kurang memenuhi/baik aspek – aspek tersebut maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin menurun. Pola hubungan negatif terdapat pada jalur harga terhadap keputusan pembelian. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat harga dari produk maka keputusan yang terjadi akan semakin menurun, sebaliknya semakin menurun tingkat harga produk maka keputusan pembelian yang terjadi akan semakin meningkat. Sedangkan tingkat signifikansi jalur yang terbentuk, terdapat empat jalur yang memiliki pengaruh signifikan, serta tiga jalur yang memiliki pengaruh tidak signifikan. Pengaruh signifikan ditunjukkan oleh konstruk motivasi, pembelajaran, sikap, produk dan harga terhadap keputusan pembelian karena nilai t-statistik di atas 2,58 (taraf kesalahan 1%). Sedangkan konstruk persepsi, promosi dan lokasi menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian karena nilai t-statistik di bawah 1,96 (taraf kesalahan 5%).
       
      7.      Kesimpulan        :
`
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

1. Faktor psikologis yang terdiri atas: motivasi, pembelajaran, dan sikap berpengaruh positif dan sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali, tetapi persepsi tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.

2. Faktor bauran pemasaran produk berpengaruh positif dan sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali, tetapi harga berpengaruh negatif namun sangat nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf farm Bali.

3. Faktor  promosi dan lokasi berpengaruh positif  namun tidak berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian sayur organik CV Golden Leaf Farm Bali.

Sabtu, 14 November 2015

Contoh kasus Pengambilan keputusan Pembelian suatu Produk


Contoh Kasus Proses Pengambilan Keputusan Oleh Konsumen

Ibu Ani membutuhkan cairan air minum mineral untuk di minum. Saat itu ia langsung mencari informasi dari orang – orang terdekatnya untuk menentukan air minum yang akan ia konsumsi setiap harinya. Setelah ibu Ani mendapat cukup banyak informasi merek, kualitas, harga, lokasi pendapatan produk tersebut maka ibu Ani mengevaluasi terhadap pilihannya dengan cermat untuk mendapatkan air minum yang baik untuk dirinya dan keluarga. Setelah mengevaluasi berbagai macam merek maka ibu Ani menjatuhkan pilihan pada produk air minum merek A yang di produksi oleh Danone yang sudah lama ada dan sangat di kenal masyarakat dan di gemari masyarakat karena produk air minum A di ambil dari sumber mata air terpercaya dan jernih melalui tahap proses beberapa kali penyaringan sehingga sangat aman dan terjamin untuk di konsumsi setiap hari dalam pengganti cairan tubuh. Tidak sedikit orang memilih air minum produk A karena terjamin untuk kesehatannya dan mudah di dapatkan. Setelah ibu Ani dan keluarga mencobanya beberapa bulan ternyata benar air minum produk A terjamin bersih ,jernih dan mudah di dapat.

Proses Pengambilan Keputusan oleh Konsumen